Pada seorang
Yang senyumnya buatku pahit
Kak, aku tidak tau harus bagaimana di depanmu. Aku tidak mau munafik, tidak mau berpura-pura, tapi selama ini aku juga tidak benar-benar jujur.
Aku bingung Kak, sangat. Bagaimana harus kukomentari cerita-ceritamu tentangnya, dan bagaimana harus kukatakan sesuatu tentang pribadiku. Kenapa juga aku begitu benci padamu ketika punggungmu membelakangiku tapi aku langsung jatuh sayang di hadapanmu.
Aku tidak suka merebut, apa lagi karena kau juga menginginkannya. Tapi aku juga tidak rela, sama sekali tidak rela, kalau harapanku tidak tercapai hanya karena kukorbankan tujuh tahun asaku begitu saja untuk dirimu.
Aku kerap berdoa untukmu, dan kuusahakan akan terus begitu. Seringkali aku mengemis pada Tuhan agar kau diberi pengganti yang lebih baik darinya. Agar kalian tidak lagi bersama, dan agar aku bisa mengemis sedianya tanpa merasa bersalah padamu.
Apapun yang terjadi, bagaimanapun takdir, aku senang mengenalmu. Aku sungguh-sungguh bersyukur karenanya.
Salinan dari buku harian, Rabi’ul Akhir 1434.
Dengan cemburu dan segan.

orangnya punya wipi ga? mogamoga kebaca..