Eksistensi dan Substansi

Kepada:
gadis yang senyumnya buatku pahit.

Hai, kita masih bertemu hingga hari ini ya. Sejak pertemuan pertama kita, kita telah tumbuh dan berubah lebih jauh. Dan, kita semakin berbeda. Perbedaan terbesar kita adalah: kau berjuang untuk eksistensi dan aku berjuang untuk substansi.

Ya, itulah perbedaan kita.

Kau berjuang untuk memuaskan apa yang orang-orang inginkan dari dirimu. Kau buktikan dirimu pada masyarakat dan menuai tepuk tangan mereka. Kau tunjukkan pada mereka kalau kau bersinar, dan sinarmu menyilaukan mereka. Ya, kau berjuang untuk eksistensi.

Sedangkan aku, aku berjuang untuk memuaskan apa yang diriku ingin tahu dan ingin lakukan. Kubuktikan diriku aku bisa mendorong batas-batas diriku. Kutunjukkan pada diriku sendiri kakiku sudah mampu tegak dengan percaya diri. Aku menghangat, karena kenyamanan dan kepuasan menjadi diri sendiri. Ya, aku berjuang untuk substansi.

Aku tidak suka mendongkrak eksistensi sepertimu, tidak. Hidup cuma sekali, dan akan kulewati dengan apa pun yang ingin kulakukan, mengabaikan semua orang lain. Bukan kebalikannya.

Ngomong-ngomong, selamat bulan Maret.

Kasih tanggapan dong!

4 pemikiran pada “Eksistensi dan Substansi”

%d blogger menyukai ini: