Yang Ada Hanya Tuan

Yang Ada Hanya Tuan

Dengar, Tuan.
Hari ini aku merasa lapar, sangat amat. Kupikir karena aku sudah tidak makan apapun selama berpuluh-puluh purnama kecuali angan. Lalu aku pergi keluar, melihat-lihat kalau saja ada yang bisa kujadikan hidangan.
Dan aku menemukannya, Tuan. Dengan mudah. Dan tidak hanya satu-dua, melainkan banyak. Aku ingin segera melahapnya. Lalu merasakan laparku selangkah demi selangkah, hilang. Aduh, enaknya. Bolehkah aku segegabah itu, Tuan?
Tiba-tiba, aku diantuk sebuah kesadaran: makanan-makanan itu tidak nyata. Seberapapun lapar aku, Tuan, itu fana. Itu hanya asumsi imajiner, bayang-bayang yang menghantui, kabut yang jad tabir. Sebenarnya, lapar itu tidak ada. Itu hanya rapuh yang menguasai benak, sehingga membuat diriku percaya bahwa aku inferior, kelaparan, dan butuh segera menyantap makanan. Yang sebenarnya, hal-hal itu tidak ada. Lapar dan makanan makanan itu tidak pernah ada, Tuan. Yang ada hanya Tuan, seorang, tidak sesiapapun lagi.
Tolong serukan di depan hidungku, Tuan, agar aku tidak kemana-mana.

Kasih tanggapan dong!

Satu pemikiran pada “Yang Ada Hanya Tuan”

%d blogger menyukai ini: