Jakarta Sejarah 400 Tahun: Empat Abad Warna-warni Jakarta

Jakarta Sejarah 400 Tahun: Empat Abad Warna-warni Jakarta

12463826

Jakarta selalu menjadi bahasan yang menarik. Apa yang terjadi selama setengah milenium di sini menjadikan kota ini bisa dianggap representasi Indonesia: multikultur, multietnis, kesenjangan sosial, dan ruwetnya birokrasi. Dalam Jakarta Sejarah 400 Tahun yang ditulis oleh Susan Blackburn pada 1989 ini dipaparkan keadaan Jakarta sejak sebelum kedatangan Belanda pada abad 16 hingga wajah kota pada pemerintahan Ali Sadikin masa Orde Baru.

Buku yang kemudian baru diterjemahkan oleh Komunitas Bambu lini Masup Jakarta pada 2011 ini menggambarkan uniknya dinamika dalam tapak tilas Jakarta. Blackburn sudah menggambarkan banyak paradoks di Jakarta, yang seringkali berupa kesenjangan sosial antara pihak yang menguasai kota (baik itu Belanda, Jepang, maupun pemerintahan pribumi) dengan masyarakat kelas bawah terutama urban, menunjukkan dua warna yang sangat kontras. Jakarta Sejarah 400 Tahun menuturkan sejarah dengan cukup ringan, sehingga mudah dibaca oleh umum.

Sejak lama, Jakarta terbiasa berinteraksi dengan multietnis—Arab, Cina, India, dan Eropa—dan kerajaan-kerajaan Jawa. Hingga kemudian VOC hadir dan memonopoli perdagangan sekaligus membangun tempat bermukim di kota ini. Pembangunan ini dideskripsikan dengan baik oleh Blackburn, terutama bangunan-bangunan yang masih difungsikan hingga kini, meski sudah berusia ratusan tahun. Penduduk Batavia di masa ini adalah campuran dari beragam etnis, baik etnis Nusantara maupun luar, namun etnis yang mendominasi populasi adalah budak yang berasal dari berbagai tempat, kebanyakan Asia Selatan; dan Mardjiker, yaitu orang Asia Kristen dari wilayah kekuasaan Portugis. Akulturasi beragam etnis berlangsung dengan lancar di kota ini. Menurut Blackburn, kelancaran ini disebabkan oleh banyaknya pernikahan antara perempuan pribumi dengan laki-laki berbagai etnis, yang membuat para laki-laki itu mudah mempelajari budaya dan beradaptasi dengan Batavia.
Etnis Betawi mulai berkembang pasca-VOC. Karena akulturasi dari berbagai budaya yang membentuk etnis ini, maka orang Betawi punya karakteristik yang terbuka, toleran, sekaligus taat Islam. Pada masa ini, pekerjaan orang-orang terkotak-kotak sesuai tempat tinggal dan etnis mereka. Pendidikan pun hanya untuk segelintir laki-laki. Kesenjangan sosial semakin jelas, antara megahnya perumahan Belanda yang bertaman luas, dengan kampung pribumi yang asal dibangun. Masa pendudukan Jepang pun tidak jauh berbeda. Bahkan, Jepang kian melebarkan jurang antara pemerintah dan rakyat.

Pada masa kemerdekaan, kota ini sudah menyandang nama Jakarta. Sukarno berambisi membangun Jakarta sebagai kota artistik dengan membangun banyak monumen dan infrastruktur megah. Dan ini adalah paradoks dengan kedatangan migran dari berbagai daerah di Nusantara, yang memadati Jakarta dengan motif perbaikan ekonomi. Mereka  hidup seadanya dari menciptakan lapangan kerja sendiri—menjadi kaki lima, tukang becak, asongan—dan membangun rumah dengan berantakan. Masa pasca-kemerdekaan ini diulas cukup banyak, sehingga tergambar jelas bagaimana dinamika yang perlahan-lahan menjadi akumulasi wajah Jakarta kini.

Dua hal yang ditekankan Blackburn di Jakarta Sejarah 400 Tahun: kesinambungan dan perubahan. Dua hal kontradiktif yang selalu ada di Jakarta, dua hal yang menjadikan Jakarta begitu warna-warni. Meski dikemas dengan ringan, Blackburn tidak mengabaikan pentingnya referensi. Catatan kaki dan daftar pustaka lengkap, dengan acuan-acuan dari beraneka sumber. Fakta-fakta yang diungkap Blackburn menarik, karena berupa detail yang tidak banyak diketahui umum sebelumnya. Buku ini dikemas merunut kronologi sehingga pembaca dengan mudah mendapat gambaran akan napak tilas Jakarta, dengan paradoks kesenjangan sosial dan ketimpangan pembangunannya.

Lihat resensi lainnya

Kasih tanggapan dong!

3 pemikiran pada “Jakarta Sejarah 400 Tahun: Empat Abad Warna-warni Jakarta”

%d blogger menyukai ini: