Menuju Esok

Menuju Esok

night-8771
Kau sedang duduk sendiri, bertanya-tanya kenapa malam tidak kunjung usai sehingga matahari terus tidur. Tiba-tiba, datang seorang asing, berhenti di depanmu dan menanyakan alamat.
“Di mana letaknya? Bagaimana caraku pergi ke sana?” begitu ia bertanya.
Kau mengernyitkan dahi. “Ke mana?”
“Menuju Esok,” jawabnya singkat. “Lewat mana?”
Kau memberinya arahan, dan ia mendengarkan dengan baik.
“Bukan perjalanan yang jauh, dan juga bukan perjalanan yang mudah,” komentarnya.
“Tentu saja, Esok selalu cukup dekat, tapi ia juga selalu sulit diraih. Itulah yang menarik dari sosoknya; paradoks.”
“Memang,” sahutnya, kemudian orang asing itu menegakkan diri, bersiap pergi. Ia mengucap sampai jumpa, kemudian berlalu pergi sementara kau tetap bergeming. Kau memperhatikan sosok orang asing itu, untuk memastikan ia tidak salah jalan setidaknya sampai jangkau matamu. Ia sudah agak jauh, dan tiba-tiba tanpa disangka, menoleh ke arahmu.
“Kemari,” ia berkata, agak keras untuk mengakomodir jarak. Ajakankah itu? Merasa tertantang alih-alih terdikte, kau mulai melangkah menghampirinya.
Kemudian, kau mendengar suara, entah dari balik muka tanah yang kaupijak, atau dari hembus lembut angin di wajahmu, atau dari angkasa, atau mungkin dari dalam dirimu.
“Hati-hati Prit, itu perintah yang berlaku selamanya.”
Mendengarnya, kau berbalik. Dan tidak pernah menoleh lagi.
 
Gambar: pexels.com

Kasih tanggapan dong!

Satu pemikiran pada “Menuju Esok”

%d blogger menyukai ini: