Pinjaman Pendidikan (Student Loan) di Indonesia, Akankah Membantu?

Pinjaman Pendidikan (Student Loan) di Indonesia, Akankah Membantu?

Dilansir dari Tempo (15/3), Presiden menantang perbankan untuk menyediakan pinjaman pendidikan (atau student loan) di Indonesia guna merangsang pertumbuhan kredit. Di beberapa negara maju, pinjaman pendidikan adalah hal yang lazim. Seseorang mendapat pinjaman untuk membiayai perguruan tinggi, kemudian ia akan mengangsur pinjaman itu setelah lulus dan mendapat pekerjaan. Apakah layanan pinjaman seperti ini dapat diterapkan di Indonesia, dimana kebanyakan mahasiswa berkuliah dibiayai orang tua atau yayasan beasiswa?

adult, blur, books
Sumber: Pexel
Hasil gambar untuk student loan editorial cartoon


Pinjaman Pendidikan, Mudah Kemudian Sulit

Pinjaman pendidikan adalah jenis pinjaman untuk membiayai pendidikan tinggi, meliputi biaya semester, buku-buku, dan kebutuhan hidup. Umumnya, bunga pinjaman ini lebih rendah dari pinjaman lainnya, atau bahkan nol. Yang lebih meringankan lagi, ada beberapa penyedia layanan pinjam ini yang membolehkan menunda bayaran jika belum mendapat pekerjaan. Selain itu, ada pula skema pengampunan (student loan forgiveness) untuk beberapa kasus tertentu, sehingga si peminjam tidak perlu membayar sama sekali.

Pinjaman pendidikan ini akan sangat mempermudah: mahasiswa bisa fokus belajar tanpa perlu pontang-panting memikirkan biaya. Tapi setelah sekolah selesai, peminjam memiliki tanggungan yang cukup berat untuk melunasi pinjamannya. Terlebih, kalau si peminjam tidak tepat memilih layanan pinjam. Tidak ada makan siang yang gratis, ya, dan kemudahan finansial di masa kuliah ini menuntut banyak selepas lulus. Tuntutan ini berpengaruh pada pekerjaan yang dipilih dan gaya hidup di kehidupan pasca kampus. Ada bahasan menarik di Huffington Post soal bagaimana orang-orang kurang teliti dan minim perhitungan saat mengajukan pinjaman, sehingga memberatkan keuangan pasca lulus mereka. Gaji akan habis untuk membayar angsuran dan kebutuhan hidup, dan akan sangat sulit menabung untuk tempat tinggal atau investasi (dan mungkin ini salah satu faktor juga mengapa generasi millenial sulit membeli rumah).
Salah satu solusi untuk menyikapi dampak buruk dari pinjaman pendidikan adalah memperdalam kecerdasan keuangan (financial literacy). Dengan punya kecerdasan keuangan yang matang sebelum mengajukan pinjaman pendidikan, si peminjam akan lebih bijak memilih jenis dan jumlah pinjaman, sekaligus membuat perencanaan karir yang baik untuk melunasi pinjaman tersebut. Jadi bisa meminimalisir hambatan ketika sudah waktunya melunasi pinjaman.

Menerapkan Pinjaman Pendidikan di Indonesia

Bagaimana kalau diterapkan pinjaman pendidikan di Indonesia? Akankah itu merangsang pertumbuhan kredit dan meningkatkan angka keterjangkauan akan pendidikan tinggi, ataukah malah membuat masalah baru ketika para peminjam itu kesulitan membayar?

Menerapkan pinjaman pendidikan di Indonesia tidak bisa sekadar dengan mencontek penerapannya di negara lain, karena ada banyak faktor yang berbeda, terutama budaya. Dalam budaya Amerika, misalnya, ada batas usia dewasa resmi di mana seorang individu dibebaskan atas dirinya sendiri, yang mana berarti individu memiliki tanggungjawab penuh akan dirinya. Dengan konsep seperti itu, kalau pinjaman pendidikan tidak ada, maka para pemuda akan sulit sekali meraih bangku kuliah karena sebagai lulusan SMA, mereka belum memiliki spesialisasi yang cukup. Di Indonesia, tidak ada konsep usia dewasa seperti itu, karena batasan privasi dan tanggungjawab sangat lebur di dalam keluarga. Sehingga, adalah sesuatu wajar jika seorang anak dibiayai sekolah hingga tingkat sarjana atau master plus uang saku oleh si orang tua. Dengan pinjaman pendidikan atau biaya sekolah yang ditanggung orang tua, mahasiswa bisa fokus belajar tanpa perlu pontang-panting memikirkan biaya.

Selain itu, pinjaman pendidikan berkemungkinan memperbaiki pola konsumsi anak muda. Gaji yang tadinya dibuat untuk hutang konsumtif seperti elektronik atau kendaraan akan teralih ke angsuran pinjaman pendidikan ini. Dan mungkin akan memperlambat usia menikah juga, karena ada keperluan melunasi angsuran pendidikan sebelum menabung untuk menikah. Apakah ini juga akan menjadikan para peminjam jadi maksimal dalam studinya? Mungkin ya. Banyak mahasiswa yang tidak maksimal studinya karena bekerja paruh waktu, tapi banyak juga alasan ketidak-maksimalan lain yang lebih berpengaruh selain bekerja paruh waktu, yang terutama sih karena tidak tahu persis apa yang akan dilakukan di jurusannya (dengan kata lain: kurang tepat memilih jurusan).Tapi apakah pinjaman pendidikan akan menjadikan para orang tua lepas tangan terhadap biaya kuliah si anak? Dengan tipisnya batasan privasi dan tanggungjawab yang lebur di keluarga, rasanya tidak. Tetap ada kebutuhan si anak yang akan membebani orang tua.

Menerapkan pinjaman pendidikan di Indonesia benar-benar perlu studi yang menyeluruh, tidak hanya secara jenjang karir dan pola ekonomi penduduk, tapi juga soal budaya, misalnya seberapa penting pendidikan tinggi bagi masyarakat, apakah orang-orang memilih jurusan yang tepat untuk karir mereka, dan bagaimana masyarakat menghadapi hutang. Menerapkan pinjaman pendidikan tidak bisa hanya sekadar berkaca dari negara-negara yang berpengalaman untuk itu, karena ada konteks budaya dan sosial yang pastinya sangat berbeda. Pinjaman pendidikan bisa jadi bukan solusi yang tepat, kalau kajian dan metodenya dilakukan dengan asal.

Solusi lain untuk meningkatkan keterjangkauan akan pendidikan tinggi adalah dengan memperbanyak SMK. Pernah ada wacana dari Kemdikbud (maaf tidak menyertakan link, tidak ketemu dan memang belum nyari lebih jauh sih) untuk memperbanyak lulusan SMK (entah menambah kuota atau menambah sekolah), guna mengurangi beban para orang tua membiayai perguruan tinggi, karena diharapkan lulusan SMK yang sudah punya ketrampilan mampu bekerja dulu sebelum kuliah atau bekerja sambil kuliah, sehingga tidak membebani orang lain (termasuk negara juga kali ya, sehingga tidak perlu banyak-banyak kasih beasiswa). Tapi kalau begitu, maka penting meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi bagi lulusan SMK, sehingga lulusan SMK memiliki keinginan untuk lanjut pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi sangat berpengaruh untuk kebutuhan akan spesialis di era ekonomi terbuka seperti ini.

Selain itu, tentu saja kecerdasan keuangan. Ini penting sekali! Hubungan dengan uang nggak sekadar terima gaji dan gunakan nominal itu untuk kebutuhan hidup sebulan, tapi lebih dari itu. Ada hutang yang harus dibayar, kebutuhan investasi, tabungan, dan ya banyak lagi sih. Karena saya tidak punya kapasitas untuk membicarakan manajemen keuangan, saya merekomen beberapa bacaan yang bagi saya sangat menarik untuk manajemen keuangan:

 
Semoga bagaimanapun cara membiayai sekolah, baik dengan pinjaman, hibah orang tua, beasiswa, atau dengan bekerja, kami tetap bisa optimal belajar dan menerapkan ilmu kami ke masyarakat.
 
 

Catatan: tulisan ini merupakan opini mentah. Saya sendiri tidak mengklaim bahwa pernyataan-pernyataan yang ditulis di sini adalah benar, karena tulisan ini tidak merujuk sumber yang cukup banyak dan kredibel. 

Catatan (2): di Indonesia memang belum populer pinjaman pendidikan, tapi bukan berarti tidak ada. DanaDidik adalah salah satu penyedia layanan pinjam dengan sistem urun dana (crowdfunding).

5 pemikiran pada “Pinjaman Pendidikan (Student Loan) di Indonesia, Akankah Membantu?”

  1. Hi, thanks atas mention danadidik nya 🙂
    Sebenarnya kredit pendidikan mempunyai berbagai macam bentuk pengembalian. Walaupun student loan itu sering dibandingkan dengan Amerika (karena pasarnya yang besar), sebenarnya Amerika mempunyai sistem pengembalian yang paling buruk (menurut kami).
    Ada 70+ model sistem pengembalian di dunia, kebanyakan di latin america & eropa – dan tidak semuanya memberatkan mahasiswa. Di DANAdidik sendiri kami sangat percaya dengan sistem income-sharing – http://help.danadidik.com/knowledge-base/mekanisme-pengembalian-cicilan-bunga-0-bagi-hasil-dari-penghasilan/
    Semoga ini membantu wawasan – bahwa tidak semua struktur loan itu sama (ataupun merugikan bahkan)

  2. Kak, tanya. Apakah ada riset mengenai kualitas kebahagiaan para pengguna student loan ini pasca lulus kuliah, di negara-negara yang menerapkannya seperti Amerika, misalnya? Seberapa banyak hutang yang akan mereka tanggung, dan apakah tingkat kebahagiaan mereka dipengaruhi oleh beban hutang itu?
    Maksud saya, fakta lapangannya.

Kasih tanggapan dong!

%d blogger menyukai ini: