Keluarga Cemara: Romantisme Usang Kemiskinan

Keluarga Cemara: Romantisme Usang Kemiskinan

Sumber: kapanlagi.com

Awal tahun, industri film Indonesia menyambut kembalinya kisah lama: Keluarga Cemara. Merupakan reka cerita dari sinetron Keluarga Cemara yang tayang pada tahun 1996-2005, yang sinetron tersebut juga merupakan adaptasi dari cerbung Arswendo Atmowiloto. Cerita di film ini adalah kilas balik dari sinetron dan cerbung tersebut. Berikut resensi Keluarga Cemara.

Paling laku dan paling baik

Film ini merupakan film lokal paling laku menurut Kompas sepanjang Januari 2019. Sudah menggaet Piala Maya kategori Film Cerita Panjang/Film Bioskop dan berhasil menjaring 1,6 juta penonton selama 5 minggu tayang. Sebuah prestasi.

Keluarga Cemara juga merupakan pilihan terbaik bagi penonton keluarga. Bioskop tidak banyak menayangkan film lokal bergenre anak, sehingga kehadiran Abah, Emak, Euis, dan Ara ini merupakan angin segar dalam perfilman Indonesia. Tidak hanya itu, film ini juga jadi sarana nostalgia bagi penikmat sinetron dan cerbungnya belasan tahun silam. Mengingat kembali kisah yang pernah tayang dan populer di layar kaca pada waktu kita jauh lebih muda, siapa yang tidak mau meluangkan waktu?

Gagasan utama yang coba disampaikan film ini adalah hubungan antar anggota keluarga yang mulanya renggang karena kesibukan khas keluarga kaya, yang kemudian jadi lebih dekat dan intensif setelah jatuh miskin. Wah, romantisme yang sudah usang di tontonan kita. Alur yang sudah nyaris basi karena lusinan sinetron sudah melagukan hal itu selama sedekade terakhir ini.

Alur cerita

Film ini diawali dengan penampilan menari Euis dan grup tarinya di panggung sebuah lomba tari. Di bangku depan, Emak dan Ara menontonnya dengan senang dan bangga. Di akhir pementasan, mata Euis memperhatikan bangku penonton di samping bangku Emak yang kosong, bangku yang seharusnya diduduki Abah. Adegan berpindah ke rumah minimalis mereka, di mana hari sudah larut, dan Euis sedang menguping pembicaraan Abah dan Emak. Emak menegur Abah, kenapa tadi tidak datang ke lomba Euis padahal sudah janji?

Berhasil dikemas dengan lebih modern, dan kekinian. Namun ada beberapa alur yang terkesan dipaksakan. Salah satunya adalah ketika Abah bangkrut. Penggambarannya terlalu drastis sehingga rasanya tidak masuk akal. Abah yang memiliki perusahaan sendiri mendadak pailit karena ditipu kakak iparnya; kemudian rumah, dengan sangat tiba-tiba dan sangat dramatis, disita. Hal itu membuat mereka harus mengungsi ke pilihan satu-satunya: rumah warisan Aki untuk Abah di sebuah kampung di Bogor. Selain itu, momen ketika Euis ingin pergi diam-diam ke kota menemui teman-teman lamanya, juga terlalu dipaksakan. Prolog yang menampilkan penampilan menari Euis di lomba tidak cukup atraktif untuk menggaet perhatian penonton atau menancapkan pesan yang kuat. Selain itu, partisipasi Gojek di film ini ditonjolkan sangat eksplisit dan cukup sering dalam film ini. Beruntungnya, masih rapi dan tidak terlalu dipaksakan.

Hasil gambar untuk keluarga cemara
Sumber: Kincir.com

Karena ini film menyinggung keluarga, beberapa adegan (seperti yang sudah dikatakan banyak orang) sangat emosional dan mengharukan. Pesan yang ingin disampaikan film ini sepertinya adalah soal menyisihkan waktu untuk keluarga. Apa yang terjadi pada Keluarga Cemara seolah menepuk kita dengan nasihat: jangan jadi terlalu sibuk dengan dalih ingin memberi yang terbaik pada keluarga, padahal yang dibutuhkan keluarga itu sendiri adalah kehadiran. Kekayaan tidak bisa membeli kebahagiaan. Sebuah klise: kaya dapat membuatmu lebih mudah bahagia, meski memang kaya tidak menjamin bahagia.

Basi?

Rasanya sudah tidak terlalu relevan, bahkan nyaris basi. Sebuah idiom yang tidak lagi laku; kini orang kaya juga bisa punya banyak waktu untuk keluarga (salah satu profesi yang bisa dicontohkan: Youtuber).

Tapi di samping itu, ini film yang bagus. Aneka percakapan dan anekdot disajikan dengan cukup matang. Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada nilai yang dianggap sensitif. Bahasa dan alur dikemas begitu rupa sehingga mudah dimengerti berbagai kalangan; dewasa, remaja, anak, lansia. Epilognya benar-benar merupakan klimaks yang mengumpulkan semua emosi penonton yang diaduk sepanjang film.

Lihat resensi film lainnya

Keluarga Cemara, meski pesannya tampak basi, tapi efektif menjadi angin segar bagi hiburan keluarga, khususnya di industri film. Kamu, apa komentar terhadap resensi Keluarga Cemara, terlepas dari udah nonton atau belum?

2 pemikiran pada “Keluarga Cemara: Romantisme Usang Kemiskinan”

  1. Saya terpesona dg Keluarga Cemara saat jadi serial di tv. Entah kenapa rasanya suka banget dg jalinan cerita dan tokoh-tokohnya.
    Anehnya saya tidak merasakan greget yang sama saat nonton di layar lebar. Nah ini juga gak tahu entah kenapa…

    Salam jumpa lagi melalui blog barunya ini ya…

Kasih tanggapan dong!

%d blogger menyukai ini: