Maret 3: Malam

Aku sering masih di luar rumah selepas petang. Kadang karena memang masih ada keharusan yang tidak bisa kutinggalkan, atau kadang sekadar belum ingin pulang. Malam kadang memusingkan. Di Jakarta dan pinggirannya, setidaknya di tempat-tempat yang kusinggahi, penuh dengan orang-orang yang kelelahan setelah seharian beraktivitas, kemacetan, dan perasaan rentan akan kejahatan. Langit malam di kotaku minim bintang—polusi cahaya. Juga minim bebunyian jangkrik dan binatang malam lainnya—tidak ada tempat untuk mereka di padatnya Jakarta.

Waktu kecil, aku takut pada malam. Rasanya terintimidasi dengan gelapnya. Dan kadang sepi. Ada juga cerita-cerita menyeramkan dari teman-teman sebaya tentang malam.

Tapi kini tidak. Gelap tidak lagi mengintimidasi; aku tahu itu cuma ketiadaan matahari yang akan berlangsung dalam beberapa jam. Lagipula, kan ada lampu-lampu. Sepi juga bukan lagi masalah: aku beberapa kali naik KRL pemberangkatan terakhir, nyaris tengah malam, dan gerbong masih ramai.  Orang-orang masih beraktivitas di luar hingga tengah malam, di seluruh penjuru Jakarta ini. Cerita-cerita menyeramkan sudah bukan hal yang menakutkan lagi. Aku menyadari betapa fiktifnya hantu-hantu. Aku menghadapi hal-hal yang lebih seram sekarang: rencana-rencana yang tidak kunjung kukerjakan.

Malam, bagaimanapun, jadi jam-jam yang menarik. Aku menghabiskannya dengan berhenti dan duduk barang satu-dua jam sendiri di warung makan pinggir jalan. Atau di stasiun KRL dan dengan perjalanan-perjalanan kereta. Atau di gedung pusat kegiatan mahasiswa, membincangi top headline dengan kawan-kawan pers mahasiswa. Atau di selasar kampus, duduk berselonjor sambil berseloroh dengan teman-teman jurusan—kadang sambil mengerjakan tugas kuliah juga. Atau di balai RW, duduk bersama tetangga-tetangga, menertawakan hari untuk melepas lelah. Malam jadi sesuatu yang sarat cerita dan rasa.

Aku suka malam, dan mensyukurinya banyak-banyak.


Maret selalu jadi bulan dimana Semesta meluapkan aneka warna di hari-hari. Tahun ini aku ingin merayakan Maret dengan maraton menulis syukur, satu post tiap hari.

Kasih tanggapan dong!