Maret 15: Pagi

Maret 15: Pagi

Pagi adalah salah satu anugerah Tuhan yang datang tiap hari. Akhir-akhir ini aku kerap melewatinya–bangun kesiangan, kepayahanku. Tapi betapapun, pagi adalah rentang waktu favoritku.

Sumber gambar: Shutterstock

Pagi di tengah kota sudah riuh dan ramai; penjaja makanan kecil untuk sarapan sudah siap sedia sepanjang pinggir jalan, anak-anak putih-biru atau putih-abu memadati angkot dan berada di boncengan motor (atau mengendarai motor), semua orang yang kami temui tampak begitu tergesa, dan udara di sekitar seakan meneriakkan lantang di telinga, “Carpe diem! Petik hari ini!”

Pagi di stasiun dan gerbong-gerbong KRL sudah penuh dengan perempuan-perempuan wangi nan cantik yang mengenakan blus-blus bagus, yang kemungkinan besar mereka bekerja kantoran di pusat kota. Atau laki-laki berkemeja, seringkali ukuran buncit perut mereka dapat menandakan usia.

Pagi di jalan Arabika masih harum oleh segar yang didapat dari sisa-sisa dingin malam. Bapak-bapak pulang dari masjid, mengenakan sarung dan senyum ramah. Pedagang sayur mulai membuka dagangan. Begitu pula dengan siapapun yang menjual sarapan: somay, lontong sayur, nasi uduk, gorengan. Kucing-kucing liar masih terlelap di depan pagar rumah warga. Kios fotokopi dan minimarket mulai berbenah, siap-siap melayani pelanggan. Orang-orang yang kutemui di jalan akan tersenyum, bahkan kadang menyapa. Mereka tidak setergesa-gesa orang-orang di tengah kota. Kalau kebetulan orang itu adalah kenalan baik, kami akan menyempatkan diri berbincang dua-tiga kalimat basa-basi. Jalan Arabika pada hari kerja, mulai pukul 6, akan ramai motor dan mobil. Ada satu SMP negri di jalan ini yang jadi sebab keramaian ini. Setelah pukul 7, lalu lalang kendaraan mulai sepi. Satu-satu mulai kelihatan ibu-ibu keluar rumah sambil menggandeng putra kecil mereka, jalan-jalan pagi. Matahari pagi bagus, begitu yang kami percaya. Dan jalan Arabika juga memang tidak pernah tercela untuk jalan-jalan pagi.

Pagi di serambi rumah penuh oleh dorongan bergegas akan ini-itu. Kalau dulu saat aku dan adik-adik masih sekolah, pagi sudah sarat akan lalu lalang penghuni rumah, bersiap ke sekolah. Akhir-akhir ini, aktivitas baru berlangsung lebih siang, dan tidak se-energik biasanya. Tapi betapapun, aku berkali-kali jatuh hati pada pagi. Terutama, karena pada pagi, udara menyerbak aroma serupa dengan aroma Re.


Maret selalu jadi bulan dimana Semesta meluapkan aneka warna di hari-hari. Tahun ini aku ingin merayakan Maret dengan maraton menulis syukur, satu post tiap hari.

Kasih tanggapan dong!

4 pemikiran pada “Maret 15: Pagi”

  1. Kampung “Rawa Jaya” tidak di ceritakan?
    Hufftt…padahal sd sampai smp kau sering lewat kampung itu untuk memotong jalan ke sekolahmu

%d blogger menyukai ini: