Satu-dua Percik

Kupikir-pikir, jaraknya cuma separo lagu.

Udara sudah hilang terik, menuju petang, di bangku salah satu RPTRA dekat rumah. Aku dan adik bungsuku duduk bersisian, mulanya ia bertanya segala hal (sebagaimana yang ia lakukan 24/7), kemudian berlari kecil menghampiri ayunan, kembali duduk beberapa menit kemudian, dan menggoyangkan kaki sambil menonton bocah-bocah lain main bola atau kejar-kejaran.

Kalau luang dan sedang merasa kurang dekat dengan adik bungsuku, aku akan ajak dia keluar dan main. Kadang ke perpustakaan kota atau museum (karena aku tidak pernah suka pusat perbelanjaan atau tempat makan), tapi kalau tidak cukup waktu, kami hanya main di sekitaran rumah. Ia enam belas tahun lebih muda dariku, dan aku sering merasa gagal sebagai kakak. Dasarnya aku memang tidak suka anak kecil, jadi sulit bagiku memahami kebutuhan dan keinginannya, apalagi aku jarang di rumah. Keluar rumah berdua saja merupakan salah satu cara menetralisir ‘kegagalan’ sebagai kakak.

RPTRA ini salah satu favoritku, karena cukup luas, buku anak di perpustakaannya cukup bagus, dan banyak jajanan. Dan tidak jauh dari rumah.


Kupikir-pikir, jaraknya cuma separo lagu.

Dan aku suka tempat ini. Kalau pagi, ramai dengan anak sekolah dan aneka jajanan. Kalau siang, mulai sepi, tapi sesekali aku menjumpai kelompok ayam (aku suka sekali hewan ini!) di tengah jalan, atau kucing-kucing yang berjalan dengan angkuh, atau sekadar kadal minyak yang mengintip dari sela daun tumbuhan liar. Kalau sore, anak-anak yang sudah bangun tidur siang dan mandi sore mulai keluar. Sebagian pergi ke lapangan untuk main bola atau engklek, sebagian lagi berada di atas sepeda dan siap menjelajah sektar, sebagian lagi membawa buku iqro dan pensil ke masjid. Aku suka tempat ini, sangat.

Ya, memang, aku punya kecenderungan jatuh hati hampir di semua tempat yang pernah kupijak. Tentu saja, Tuhan membentuk rupa bumi dengan cantik nian, bahkan hingga sudut kecil kota. Aku cinta pekarangan-pekarangan terik di kompleks candi tempat kami melakukan penggalian arkeologi, aku cinta lembah dan bukit-bukit yang kususuri selama sepekan ada di Bukittinggi, aku cinta ruang pameran di galeri-galeri seni yang kukunjungi, aku cinta sofa di ruang baca perpus-perpus kota, aku cinta sudut-sudut sejuk kampus di tengah terik Depok, aku cinta jalanan menuju kantor yang nyaman untuk jalan kaki, aku cinta begitu banyak tempat yang pernah kusambangi, termasuk tempat ini.


Kupikir-pikir, jaraknya cuma separo lagu.

Kalau memutar Better When I’m Dancing-nya Meghan Trainor saat keluar pagar rumah, di lirik show the world you’ve got that fire, aku sudah tiba di tempat. Atau kalau memutar You Don’t Even Know Me-nya Mocca, setelah Arina selesai dengan excuse me Sir, you don’t even know me, aku sudah tiba di tempat.

Karena jarak yang sedekat itu, kupikir tempat ini jadi sesuatu yang biasa. Tapi rupanya tidak. Berjilid-jilid cerita bisa lahir dari tempat ini.


Kupikir-pikir, jaraknya cuma separo lagu, dan ini cuma satu-dua percik dari buncahan cerita tentang Rawajaya.

Kasih tanggapan dong!