Nanti juga lewat

Tiba-tiba datang di siang yang tenang: ketakutan.

Hari-harimu biasanya aman-aman saja, tapi kali ini, datang ketakutan. Gabungan cemas dan khawatir. Pilu karena ada daya tidak sampai. Merasa lumpuh karena tidak bisa berbuat apa-apa, karena jadi terlalu pengecut.

Kepada Tuhan, kamu berdoa supaya segalanya baik-baik saja. Agar Tuhan mendekap erat ia dan mereka yang kamu kasihi. Agar Tuhan memberi bahagia di tiap hela napas mereka, dan melepas beban macam apapun di tiap hembus napas mereka. Agar Tuhan menganugerahi mereka ribuan pagi cerah untuk disambut.

Kamu boleh ketakutan dan merasa cemas, berpikir berlebihan, berprasangka buruk, menganggap dirimu kerdil, tidak berdaya, atau apapun itu, silakan. Tapi jangan berlarut. Tenanglah, rasa takutmu tidak sesignifikan itu. Ini cuma terjadi beberapa waktu terakhir, dan nanti juga lewat. Sebagaimana ketakutan-ketakutanmu sebelumnya, yang ternyata bisa tergeser oleh berbagai hal lain yang datang di keesokannya. Masih ada ribuan matahari terbit dan ratusan purnama yang bakal datang.

Tidak perlu larut dalam ketakutan, Prita. Nanti juga lewat. Kalaupun tidak, kamu selalu bisa menyiapkan rencana cadangan. Atau alternatif yang lebih baik. Atau yah, seburuk apapun hari, selama kamu masih hidup, kamu masih bisa memilih untuk tertawa di atas menangis.

Ini baru prolog, dan jangan jatuh di langkah pertama, ya. Siap kokohkan sepasang tungkaimu. Que sera, sera.

Kasih tanggapan dong!