Karib yang tidak kunjung jenuh

Karib yang tidak kunjung jenuh

Ingat ini baik-baik: satu perlakuan burukmu nggak akan membuatku lupa entah berapa banyak kebaikan yang kau lakukan sebelumnya.


Beberapa pekan lalu, kau bertanya via WhatsApp (karena frekuensi temu sudah jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya), kenapa pesan sering tidak dibalas? Apakah aku sedang kesal dan menghindar? Apakah ada kesalahan yang tidak kumaafkan?

Ya ampun, tidak. Kujelaskan kalau aku hanya tidak terlalu memperhatikan WhatsApp, dan sedang ada kesibukan lain. Aku merasa tidak nyaman karena sudah membuatmu merasa begitu. Kau salah satu karib terbaikku, dan kau tahu jelas.

Aku tidak lupa, kau hadir di pekan-pekan memusingkan saat aku separo mati menyeimbangkan antara pekerjaan lepasan, tugas kuliah, dan kegiatan UKM. Kau saat itu punya lebih banyak kegiatan, tapi masih menyempatkan obrolan (atau lebih tepatnya, mendengarkan keluhan payah Prita) setelah kelas.

Masih segar juga dalam ingatan: ada saat dimana orang-orang menyarankanku untuk mengajukan cicilan semesteran untuk meringankan keuangan bulan itu, kau datang menawarkan proyek–tentu dengan bagi hasil. Aku seumur hidup selalu menghindari sistem cicil, dan kau datang mengulurkan tangan, membantuku menghindar. Sobatku yang paling progresif, terima kasih sudah mempermudah keuangan dan mengajarkanku caranya lari dan melambung.

Kemudian, aku juga menyampaikan padamu banyak hal yang tidak kusampaikan pada orang lain. Termasuk aneka cerita tentang ketololanku. Kupikir setelah mendengarnya, kau akan menyiramku dengan aneka serapah atau nasihat, tapi tidak. Kau menanggapi dengan lusinan kalimat yang menenangkan, dan tidak mengubah apapun dari obrolan kita.

Kau adalah orang yang sangat progresif, aku sungguh belajar banyak bahkan dari sekadar mendengarkanmu. Kau orang yang sibuk setengah gila, tapi masih menyediakan telinga untuk menit-menit keluhan. Kau orang yang memetakan cita sepanjang pekan dan jungkir balik untuk menggapainya, sekaligus bisa selalu ada untuk siapapun di sekitarmu yang butuh. Kau orang yang nyaris bisa melakukan segala hal, pembelajar yang kilat, tapi tidak pernah membusungkan dada.

Tahun lalu, saat kau merayakan kelulusan, aku sempat punya ketakutan, bahwa setelah studi selesai, kau akan pulang melewati 600 km ke rumahmu di timur sana. Tidak ada temu lagi, dan mungkin akan segera datang hari ketika kita saling lupa. Ketika kita terlalu jauh baik dalam jarak maupun rutinitas, untuk sekadar anjangsana. Ketika kita terlalu sibuk bahkan untuk sekadar chat WhatsApp.

Tapi rupanya tidak. Kita masih saling bertukar cerita dan diskusi, via WhatsApp atau LinkedIn. Menelepon (aku relatif tidak suka telepon, tapi kau adalah pengecualian) lepas petang, puluhan menit untuk mendengarkan ketololan dan keluh satu sama lain. Duduk makan siang di akhir pekan dan membincangkan kesibukan satu sama lain.

Terima kasih sudah jadi karib yang tidak kunjung jenuh mendengarkan keluh yang tidak habis-habis.

Pada Semesta, aku mengemis agar Ia mendekapmu dalam sukacita, sepanjang tahun.

2 pemikiran pada “Karib yang tidak kunjung jenuh”

Kasih tanggapan dong!

%d blogger menyukai ini: