Langit Tengah September

Di langit tengah September, bulan sudah sempurna purnama. Aku menikmati pendarnya bukan dari kota kita, sembari sibuk menerakan banyak syukur. Salah satunya: kau.

Yang sayangnya, hari itu, hanya sempat bercakap melalui WhatsApp. Bukan percakapan panjang. Bukan percakapan penuh guyon segar dan jenaka sebagaimana sebelum-sebelumnya. Bukan percakapan mendalam yang mendiskusikan hal-hal berat. Bukan apa-apa, hanya sekadar pesan-pesan pendek.

Bukan apa-apa, tapi berhasil menyalakan sukacita besar yang tidak padam-padam.


September, di pangkalnya

Momen yang berbeda, masih pertanyaan yang sama yang kulontar: kenapa masih mengingat? Sudah berapa kali aku bertanya hal yang sama? Aku mengingat-ingat. Tiga kali, masing-masing di momen yang berbeda.

Dan kau melontar jawab yang masih itu-itu lagi: Apa harus lupa?


September, di ujungnya

Setelah bertahun, hari itu aku seperti bercermin saat melihatmu.

Kasih tanggapan dong!