Menyulap Hal-hal Sederhana

Menyulap Hal-hal Sederhana

Sumber: Pexels

Biasanya, aku merayakan pagi dengan bangun dalam keadaan segar, sesegera mungkin melangitkan syukur akan satu hari baru lagi, sekaligus berdoa pada Semesta atas kesempatan untuk bisa menikmati sejuta pagi lagi, kemudian benakku sibuk merencanakan daftar yang harus kukerjakan hari itu. Makin hari aku merasa dunia makin menyenangkan, itu kenapa aku selalu suka pagi.

Selalu, kecuali di satu hari tertentu setiap bulan: hari pertama menstruasi.

Aku sudah merencanakan banyak hal dari malam sebelumnya: bangun lebih pagi, lari pagi bareng tetangga (aku jarang olahraga, jadi aku antusias sekali mengagendakan lari pagi!), menyelesaikan cucian baju, pergi untuk perbaiki laptop dan sedikit me time di kafe. Mumpung hari Minggu, sebelum esoknya tenggelam ke rutinitas kerja 9-5 lagi.

Tapi semuanya batal. Alih-alih produktif di hari Minggu, aku malah tidur seharian. Kram perut parah dan sakit kepala, gangguan tiap hari pertama menstruasi, tapi kali ini lebih menyakitkan.

Semua agenda batal. Aku bangun kesiangan, membatalkan janji lari pagi bareng (dan membuat dia kesal), kembali tidur sampai siang sekali dan menelantarkan cucian baju, tidak jadi keluar rumah sama sekali. Tidak melakukan apapun juga selain tidur dan baca novel. Sepanjang hari cuma berbaring.

Aku sepenuhnya kesal pada diriku sendiri hari itu. Kenapa jadi sangat tidak produktif?

Aku masih tidak melakukan apapun sampai malam mulai beranjak ketika seorang teman datang ke rumah untuk ambil barang. Tapi ternyata, bukan cuma itu. Ia menyerahkan sesuatu padaku: kado (lagi).

Aku tidak sedang berulang tahun, dan sudah menerima kado juga dari orang ini di ulang tahunku beberapa minggu sebelumnya.

Kemudian ia pamit, kunjungan yang tidak sampai lima menit.

Kadonya dibungkus rapi, dan kali ini, terlampir tulisan di depan bungkusan. Berkali-kali sebelumnya, kado-kado yang ia beri tidak pernah menyertakan surat atau tulisan. Paling hanya sepotong kertas dengan satu kalimat. Tidak pernah ada banyak kata-kata. Tapi ini, ada beberapa baris di depan bungkusan.

Pecahkan kode ini sebelum dibuka. Di bawahnya, ada empat baris sandi.

Apa? Aku harus puter otak? Memecahkan sandi cuma untuk buka kado?

Sebetulnya, bisa saja aku buka selotipnya langsung. Tapi alih-alih buka selotipnya langsung dan mengabaikan kode aneh itu, aku berusaha menerjemahkannya satu-satu. Bukan karena manut dengan perintah ‘pecahkan kode sebelum dibuka‘, melainkan karena aku harus baca pesan ini, apapun itu.

Lebih dari 30 menit aku menerjemahkan huruf, satu-satu. Separuh mati penasaran, separuh mati kesal. Tapi akhirnya, pesannya terbaca. Tertera: kado ini sebenarnya bukan untukku, tapi untuk adikku, si bungsu usia enam tahun. Kemudian dengan lega karena akhirnya bisa membaca pesan itu, aku membuka bungkusannya–setelah sebelumnya minta izin via WhatsApp, ‘Bolehkah kubuka ini tanpa adikku?’.

Mendadak meleleh….

Ada tiga barang sekaligus. Spidol mewarnai, satu set. Sebatang pulpen manis bertinta warna warni, dengan kepala unicorn di ujungnya. Sepotong kertas, sarat tulisan.

Kado-kado yang ia beri buatku sebelumnya tidak pernah menyertakan surat, padahal itu bagian favoritku ketika buka kado, kado apapun dan dari siapapun. Kali ini ada surat, tapi kadonya bukan buatku, tapi untuk adik kecilku, 6 tahun dan suka sekali menggambar. Aduh Tuhan, sayang sekali aku tidak sedang bersama adikku.

Kekesalan sepanjang hari karena badan sakit dan semua agenda batal, tiba-tiba lenyap. Ria meluap-luap. Senang sekali, Tuhan. Ah, sayangnya adikku sudah tidur. Aku masih harus menunggu besok untuk menunjukkan kado manis ini.

Meski masih harus menunggu esok, malam itu aku menutup hari dengan merasa amat senang. Tentu saja, apa yang lebih menyenangkan dari punya kawan yang piawai menyulap hal-hal sederhana jadi sesuatu yang menakjubkan?

Kasih tanggapan dong!