Taman Arkeologi Tengah Laut

Taman Arkeologi Onrust

Taman Arkeologi Onrust di Tengah Laut

Salah satu wisata sejarah yang paling mudah ditemui di daerah Jakarta dan sekitarnya adalah peninggalan Belanda. Seringkali memang tidak semengagumkan candi Hindu-Buddha atau semisterius tulang-tulang manusia purba, tapi peninggalan Belanda, khususnya bangunan, unik karena mereka kokoh, cantik, dan fungsional. Senangnya, beberapa waktu lalu aku berkesempatan mengunjungi salah satu peninggalan Belanda di tengah Laut Jakarta, tepatnya di Kepulauan Seribu: Taman Arkeologi Onrust.

Kawasan ini meliputi 3 pulau; Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir, yang jarak satu sama lain hanya beberapa ratus meter. Tiga pulau ini adalah pulau terdekat dari daratan Pulau Jawa.


Pulau Kelor Kepulauan Seribu

Pulau Kelor, Sedikit Lebih Besar dari Lapangan Bola

Pulau Kelor hanya 30 menit berperahu dari Muara Kamal, dan di pulau ini terdapat Benteng Martello. Dulu orang-orang Belanda memantau kapal-kapal yang akan masuk Jakarta melalui benteng ini. Benteng ini punya dua tingkat, dan berfungsi sebagai pertahanan dan pengintai sekaligus.

Di tingkat pertama, ada lubang-lubang seukuran meriam di sekeliling dinding benteng, yang memang diperuntukkan meletakkan meriam. Jadi, arah tembaknya bisa ke arah mana saja.

Di tingkat kedua, yang sudah rusak dan nyaris tidak terlihat bekasnya, ada jendela-jendela yang sepertinya dulu digunakan untuk mengintai.

Pulau ini sendiri mungil banget, cuma seluas lapangan sepakbola. Keliling pulau dengan jalan santai paling cuma habis 10 menit.

Pulau Cipir Kepulauan Seribu

Pulau Onrust, Bekas Karantina Calon Haji

Pulau ini dulunya digunakan sebagai karantina calon jamaah haji. Pulau ini penuh dengan sisa bangunan bekas asrama.

Di pulau ini, salah satu bagian dari pondasi bangunan adalah papan besi. Jadi rupanya papan besi ini ditanam di sekeliling bangunan untuk menghalau tikus, biar tikus nggak bisa gali menuju bangunan. Tikus ini dikhawatirnya bawa wabah dan penyakit. Apalagi, pulau ini juga jadi perhentian orang-orang yang pulang haji, yang sudah berbulan-bulan berada di kapal yang bisa jadi membawa tikus dan penyakitnya.

Itu pada awal abad 20. Setelahnya, pulau ini jadi tempat membuang penjahat. Jadi pulau ini penuh dengan reruntuhan dan puing. Bangunannya relatif (sepertinya) nggak bersimbol atau punya dekorasi tertentu seperti bangunan-bangunan Belanda di Jakarta yang kini beralih jadi museum atau kantor pemerintah. Bangunannya dibangun seadanya, yang penting bisa mengakomodir kepentingan persiapan orang-orang menghadapi perjalanan melaut berbulan-bulan.

Selain asrama haji, ada juga pemakaman. Ada pemakaman Belanda dan ada juga pribumi. Yang lebih menarik sih makam Belanda, karena dipreservasi di satu area yang dipagari, dan nisannya juga unik-unik.

Pulau Cipir Kepulauan Seribu

Pulau Cipir, Karena yang Sakit Harus Jauh-jauh

Menyebrang ke Pulau Cipir dari Pulau Onrust cuma 10 menit. Pulau ini dibangun khusus untuk orang-orang yang sakit, biar bisa ‘diasingkan’, biar mencegah penularan penyakit. Bangunan yang dulu pernah tegak di pulau ini adalah rumah sakit. Kini, masih ada bekasnya, berupa dinding kamar dan bangsalnya.

Yang menarik disini adalah sisa jembatan. Jadi ada dermaga yang memungkinkan kita melihat sisa bangunan jembatan yang menghubungkan pulau ini dengan Pulau Onrust. Dua pulau ini berdekatan, banget.


Kunjungan ke tiga pulau ini umumnya dilakukan satu hari penuh, orang-orang sering menyebutnya hopping islands. Ketiga pulau ini kini disatukan dengan nama Taman Arkeologi Onrust, dengan pemprov DKI sebagai pengelola. Menyenangkan sekali bisa main ke situs arkeologi lagi! Semoga tahun depan bisa menyempatkan lebih banyak kunjungan!