Mens Rea: Pertunjukan Lawak yang Dieksekusi Serius

Mens Rea: Pertunjukan Lawak yang Dieksekusi Serius

“Selamat malam, atasan Presiden Republik Indonesia!” sapa Pandji Pragiwaksono kepada 10.000 hadirin yang memadati Indonesia Arena serta 7.000 hadirin yang menonton via livestreaming.


Mens Rea Jakarta adalah pertunjukan stand-up comedy yang mulanya kuniatkan sebagai pertunjukan stand-up yang pertama kutonton–aku sudah membeli tiket dari satu tahun sebelumnya, di mana Pandji sendiri sudah memunculkan teaser dari . Tetapi ternyata, tepat sehari sebelum acara, Comika melangsungkan Sammy Obeid Live in Jakarta–yang baru kuketahui sebulan sebelumnya. Dan tentu saja aku hadir! Ulasan mengenai penampilan Sammy Obeid di Jakarta ada di sini.

Aku mencoba menulis ulasan ini secara menyeluruh; dari perspektif sebagai penonton yang terkesan dengan strategi marketing dan eksekusi acara.

Strategi Marketing yang Brilian

Pandji sudah menggadang-gadangkan Mens Rea lebih dari setahun sebelum pertunjukan, dan tentu saja ketika pre-order tiket dibuka–setahun sebelum pertunjukan–aku langsung membeli di jam pertama. Keputusan yang aku wajibkan untuk diriku karena sudah melewatkan Komoidoumenoi di 2022. Pertunjukan di Jakarta ini adalah pertunjukan terakhir dari rangkaian tur Mens Rea yang meliputi beberapa kota di Indonesia.

Sepanjang penantian, Pandji melakukan teasing acara tidak dengan bit-bit bocoran, tetapi dengan membuat konten di media sosial, podcast, dan lain sebagainya dengan clue ‘ini nanti akan gua bahas di Mens Rea’. Warming up seperti ini sangat ‘memanjakan’ pembeli tiket awal sepertiku, sekaligus juga ‘menggoda’ orang-orang untuk segera mengamannkan tiket mereka. 

Selain itu, ada juga teaser-teaser yang bekerja dengan para sponsor dalam bentuk campaign activation yang menarik. Dua yang kuanggap mengesankan adalah kolaborasi dengan Blue Bird dan Salonpas. Bluebird, ada activation dengan mengajak orang-orang post Instagram story foto unit Bluebird berstiker Mens Rea. Ada pula lari 5k di GBK pagi sebelum acara dari Salonpas, yang mana ini agak mencengangkan karena siang dan malamnya Pandji tampil di panggung.

Satu hal yang membuat tidak nyaman, adalah penukaran tiket diwajibkan harus membuat akun dan harus via aplikasi. Sebelumnya, aku sudah berkali-kali membeli tiket untuk beragam pertunjukan di Loket, dan tidak perlu buat akun, apalagi install aplikasi. Bukan cuma install aplikasi menjadi kewajiban, aku juga merasakan banyak bug ketika mencoba login–2 FA tidak bekerja. Ini sangat-sangat tidak efektif dan tidak nyaman. 

Mengenai komunikasi terkait acara, aku angkat topi. Semua informasi disampaikan secara jelas dan detail melalui media sosial Pandji dan Comika. Bahkan ada tutorial untuk penukaran tiket, tutorial mengakses mushola, dan gambaran menonton dari kursi di masing-masing kategori kelas. 

Eksekusi Super Rapi

Tidak hanya marketing dan komunikasi yang luar biasa brilian dan detail, eksekusi pun juga sangat rapi. 

Seperti tur-tur Pandji sebelumnya, alih-alih nomor kursi yang bisa dipilih saat beli tiket, sistem yang diterapkan adalah first come first serve. Selain menerapkan sense or urgency, hal ini menghargai orang-orang yang meluangkan waktu untuk datang duluan. Meski begitu, ada sebagian kecil kursi bernomor dengan nomor yang bisa diambil beberapa jam sebelum pertunjukan (keputusan yang praktis, karena orang-orang yang datang duluan tidak perlu duduk di kursinya selama berjam-jam sebelum pertunjukan, melainkan mereka bisa berkeliling di venue dan jajan. 

Dari aspek operasional, semua komunikasi sangat detail dan rapi. Setiap alur memiliki tutorial yang jelas, signage jelas dan ditempatkan di titik-titik yang mudah dibaca, semua fasilitas diinformasikan dengan lengkap, dan kontrol kerumunan berjalan lancar. Yang paling berkesan adalah bagaimana semua kelas tiket mendapat perhatian yang sama—bukan hanya penonton dari kelas-kelas utama (di sini, Diamond dan Emerald0 yang dimanja.

Setiap detail dari acara, mulai dari alur masuk, crowd control, hingga fasilitas-fasilitas yang ada, terasa direncanakan dengan matang dan menyeluruh, dan dieksekusi dengan sangat rapi.

Fasilitas

Fasilitas lantai dua dengan berbagai aktivitas seperti bioskop, open mic, Comika Comedy Club, dan berbagai booth makanan menunjukkan bahwa pengalaman penonton dipikirkan secara menyeluruh. Bahkan tersedia fasilitas day care, detail yang menunjukkan betapa thoughtful-nya Pandji dalam mempertimbangkan kebutuhan semua segmen penonton.

Booth makanan di lantai dasar banyak dan kurasa cukup untuk keramaian ini. Hanya saja, karena gate dibuka dari siang, banyak orang yang mencari kopi, tapi hanya 1 booth (dan letaknya pun tersembunyi) yang menjual kopi. Juga, keterbatasan ruang untuk menunggu membuat banyak pengunjung yang sudah ramai dari siang harus mencari area untuk duduk (lesehan). 

Booth-booth sponsor dan ruang-ruang Comika di lantai 2 dan 3 menarik karena masing-masing punya aktivitas yang seru, sehingga yang sudah datang dari siang bisa menghabiskan waktu di area ini. Aku mencoba masuk Bioskop Comika 2x (mereka ada sekitar 4 sesi–kalau tidak salah) dengan datang ke ruangannya 2 menit sebelum sesi dimulai, tetapi sayangnya selalu sudah penuh. 

Penampilan yang Memukau

Oh, tentu saja memukai, semua detailnya top. Sebelum ini, aku belum pernah menonton Pandji secara langsung, hanya menonton via digital download. Jadi ini adalah pengalaman yang sangat mengesankan.

Secara konten acara – Pandji membawakan konsep yang konsisten sepanjang show dengan frasa “menurut keyakinan gue”—sebuah disclaimer cerdas yang membuatnya bisa menyampaikan kritik tajam tanpa bisa dibantah secara langsung. Frasa ini diulang berkali-kali hingga menjadi signature yang memorable.

Rap Mens Rea-nya diulang berkali-kali dari pra-acara hingga pasca, dan aku sangat menikmati ini karena secara pribadi aku suka sekali lagunya!

Pertunjukan juga dibuka dengan 2 komika; Dani Beler dan Ben Dhanio, keduanya menarik.

Topik yang dibincangkan sepanjang acara tentu saja: pemerintah. Bit-bitnya makin menarik karena ada momentum di luar kontrol yang mengentalkan intensitas kemarahan warga, yang mana ini membuat topik pemerintah jadi semakin legit untuk dibahas. Sepanjang pekan sebelum acara ini berlangsung, ada demo mengenai kenaikan tunjangan DPR dan banyak hal lain, yang berpuncak di pembunuhan oleh polisi terhadap pengendara ojek online yang tidak terlibat di demonstrasi. Untuk menghormati kepergian beliau, Pandji memulai dengan mengheningkan cipta selama 21 detik–sejumlah usia pengendara ojek tersebut.

Selain itu, Pandji membahas betapa gobloknya orang Indonesia: pemerintahnya, masyarakatnya, termasuk kami para penonton. Roasting kritis ini sangat menggigit dan aku sangat suka!

Cara Pandji menyapa penonton; “Selamat malam, atasan Presiden Republik Indonesia!” kepada 10 ribu penonton di Indonesia Arena dan 7 ribu yang menonton livestream, mempertimbangkan keadaan beberapa bulan belakangan, menjadi sesuatu yang membangkitkan euforia dan amarah sekaligus.

Countdown dan pembacaan tata tertib – ini adalah hal yang sangat biasa, mandatory super standar di berbagai acara, tapi Mens Rea mengemasnya dengan unik, mengena, dan kocak: countdown ditampilkan dengan masking foto-foto orang-orang yang punya sentimen negatif besar di media. Tata tertib dibacakan dengan aksen khas salah satu tokoh politik Indonesia, yang mana membuat seluruh stadion terpingkal terhadap “sekadar” tata tertib. Ini adalah bagian paling standar, sekaligus favoritku di sini–karena keunikan kreativitas pengemasannya.

Soundcheck – atau Pragiwaksoncheck. Aku menghadiri sesi ini di siang hari, beberapa jam sebelum acara, dan merasa disajikan sesuatu yang sangat memuaskan: apa yang Pandji lontarkan di sesi ini tidak muncul di sesi utama–jadi aku merasa wow aku mendapat dua pertunjukan sekaligus!

Full house – seluruh kursi yang dijual di Indonesia Arena laku keras, seingatku sudah sold-out dari sekitar seminggu sebelum acara. Sepuluh ribu kursi. Pekan sebelumnya aku menonton pertunjukan lain di lokasi yang sama–Pagelaran Sabang Merauke di Indonesia Arena–dengan harga tiket lebih murah, jumlah kursi lebih sedikit, tetapi pertunjukan di sesi terakhir tidak sepenuh Mens Rea. 

Momentum – hal yang di luar kontrol semua orang: pekan itu diawali dengan demo, dan hal ini yang menyulut kemarahan warga makin-makin membuat Mens Rea jadi sesuatu yang ‘di waktu yang tepat’.

Kesan

Sebagai seseorang yang tidak memiliki ketertarikan khusus pada dunia entertainment, aku menyukai fakta bahwa aku masih bisa mengikuti tidak hanya karya, tapi juga perjalanan karirnya, di dunia hiburan. Terlebih, karena kepribadiannya: karakternya yang kuat dengan kritik sosial yang cerdas (terutama ke pemerintah), ide-ide marketingnya yang brilian, dan kedisipilinan tinggi; jadi hal menarik yang bisa diikuti siapa pun, termasuk orang-orang yang tidak berada di dunia hiburan.

Kasih tanggapan dong!