Sammy Obeid Live in Jakarta

Sammy Obeid Live in Jakarta

Mulanya, aku ragu untuk hadir di Sammy Obeid Live in Jakarta ini, mempertanyakan apakah harga tiketnya akan sepadan, dan ternyata, tentu saja, sangat sepadan, dan aku bersyukur aku ‘memaksa’ diri untuk menghadiri ini. 

Suasana acara dan pembuka

Host (Pandji), para komika pembuka (Sukraj, Ligwina, Andovi), dan Sammy Obeid

Malam itu hujan deras dan Jakarta geger karena di hari sebelumnya, polisi yang awalnya ditugaskan untuk mengamankan demonstran, dengan sengaja dan brutal membunuh pengendara ojek online. Jalanan menuju lokasi pertunjukan, Usmar Ismail, relatif lengang karena banyak kantor yang dipulangkan cepat sehubungan dengan adanya demonstrasi. 

Meski begitu, acara berlangsung lancar dan rapi; Comika sebagai penyelenggara sangat informatif dan terus update Instagram secara berkala.

Acara dibuka oleh Pandji sebagai host, dan tentu saja, beliau udah lucu bahkan hanya untuk membuka acara. Selain lucu, tentunya, thoughtful: di awal, beliau mengajak kami mengheningkan cipta selama 21 detik untuk mengenang Affan Kurniawan yang dibunuh polisi. 

Setelahnya, acara dibuka oleh: Sukraj Putera, Ligwina Hananto, dan Andovi da Lopez. Ketiganya lucu, dan Sukraj yang paling pecah: bitnya yang bicara soal karir dan agama, terdengar segar dan relevan–ditandai dengan pecahnya tawa hadirin. Andovi bicara soal Jokowi; Ligwina bicara soal stereotip ibu-ibu. 

Penampilan Sammy

Sammy datang agak terlambat karena macet. Tipikal Jakarta di Jumat malam.

Ia tampil dua jam penuh, ngelaba, separuh waktunya untuk membawakan naskah yang sudah ia tulis, separuhnya lagi berdasarkan interaksi dengan penonton, yang mana sangat mengesankan.

Satu jam pertama tentu sarat dengan bit-bit yang sudah ia siapkan: bicara tentang apartheid dan bagaimana ia kena diskriminasi di SMA dengan lelucon-leluconnya.

Dia juga menceritakan betapa susahnya dia mengurus pertunjukannya di Singapura, yang berakhir tidak mendapatkan izin, dan dugaannya adalah karena Singapura tidak sepakat dengan naskahnya yang (meski tersirat) menyinggung genosida Israel. Kebetulan, di antara hadirin, ada 1 warga Singapura yang memang terbang ke Jakarta untuk menggantikan pertunjukan Singapura yang batal. 

Lalu, setelah satu jam, ia bertanya ke hadirin, “Kalian mau aku ngomongin apa?”

Dan satu jam selanjutnya, menjadi sesi yang tiga kali lipat lebih kocak. Terutama, karena satu ruangan berusaha membuat dia paham mengenai kondisi politik di Indonesia, betapa problematiknya pemerintahan hari ini, perjalanan pemilu tahun lalu, dan intrik bahwa presiden yang sekarang adalah mantan mantu dari presiden yang pernah berkuasa selama lebih dari tiga dekade. 

Bit yang keluar semuanya lucu, sebagian karena dia paham begitu cepat (pola pemerintah problematik yang sama juga ada di berbagai belahan dunia), dan juga karena momen-momen ketika dia bingung. 

Dua jam penuh, dengan kaos kusut dan hari panjang menghadapi gerbang-gerbang bandara dan kemacetan Jakarta, Sammy Obeid berhasil telak membawakan komedi yang interaktif, taktis, lucu, dan penuh kritik sekaligus.

Esoknya, aku menonton Mens Rea Pandji, dan kurasa akhir pekan ini adalah akhir pekan paling mengesankan sepanjang 2025.

Kasih tanggapan dong!