Hidup Belakangan Seru Sekali

Hidup Belakangan Seru Sekali

Matahari melontar satu seringai jenaka, menjadikan sekitarnya penuh percik warna-warni. Sukacita berlanjut, hingga dekade mengganda.


Hidup belakangan seru sekali, Tuan. 

Ada perjalanan-perjalanan yang kulakukan, yang meski pendek, rasanya bernas. Aku menemui orang-orang dari tahun-tahun yang lampau, sekaligus menemui orang-orang baru. Semua pertemuan itu menyalakan api-api yang sempat redup, hari jadi lebih cerah dan hangat. Aku melangitkan doa supaya orang-orang itu diberi banyak berkat baik. 

Ada kegagalan-kegagalan yang kualami, lusinan prospek yang kuhubungi tidak jadi melanjutkan kontrak denganku. Ada dua kesempatan yang datang dan hampir jadi, tetapi yah, hampir itu beda dengan jadi. Tapi kabar baiknya: tidak sekali pun aku tersengat dengan kegagalan-kegagalan itu. Di samping itu, aku masih ingat pesanmu untuk tidak mengkerangkeng diri sendiri dalam kenyamanan.

Ya. Sampai hari ini, aku masih menghari dengan nilai-nilai yang kudapatkan darimu. Berkat kau, berkat kau, Tuan! 

Dan bicara kata berkat, kurasa itu kata yang menarik. Berkat bisa berarti ‘karunia, blessing’ (nomina) sekaligus ‘sebab, because’ (partikel). Mungkin kata itu tersusun karena banyak “sebab” yang berujung jadi “karunia”. 

n karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia: semoga Tuhan melimpahkan –Nya kepada kita

KBBI

p karena; akibat dari: — bantuannyalah kami dapat selamat kembali ke kampung

KBBI

Dan, ya, aku masih senang buka-buka kamus untuk sekadar mencari etimologi atau membuat rima dalam tulisan. Itu menarik. Mungkin suatu hari aku akan belajar linguistik dengan serius. 

Omong-omong belajar, aku sedang belajar satu bahasa baru. Kuharap aku bisa menguasainya dengan lancar sebelum tahun ini berakhir. Rasanya menarik, karena belajar bahasa membuatku mencari tahu tentang budaya para penuturnya, dan ini amat menyenangkan, karena rasanya seperti menjelajah via antropologi linguistik. 

Selain dari itu, ada timbunan topik yang bisa kuceritakan dengan gembira ria. Satu-dua cangkir kopi tidak cukup. Aku perlu satu sore penuh, atau mungkin dua, atau mungkin tiga. atau mungkin lusinan. Dan soal itu, aku ingin dengar, Tuan, kau punya berapa sore dan ingin sore yang mana.

Kasih tanggapan dong!