
Itu Lisna. Dila mengenali gigi taring patahnya saat gadis itu nyengir. Dila memikirkan cara bagaimana dia bisa mengagetkan Lisna dengan kehadirannya. Ya Tuhan, sungguh kebetulan yang begitu tak terduga, bisa bersirobok dengan Lisna di sebuah galeri seni di pusat kota setelah satu dekade berlalu sejak pertemuan terakhir mereka.
“Lisna!” Dila memanggil gadis itu. Ketika Lisna menoleh, Dila melambai riang dan agak terburu menghampiri gadis berkulit gelap itu. Untungnya, koridor galeri tidak terlalu ramai. Lisna membalasnya dengan senyum dengan kesan asing di wajahnya.
“Hai! Apa kabar?” Dila bertanya, sementara sepasang matanya memerhatikan detail-detail penampilan Lisna. Ia tidak berubah banyak, pikir Dila. Terakhir Dila melihatnya adalah ketika ia 11 tahun, ketika peringatan kelulusan SD-nya. Rambut tebal legamnya kini ditutupi kerudung. Tubuhnya masih kurus seperti sedekade lalu, tapi warna kulitnya lebih gelap. Pakaiannya manis, gaun sederhana berwarna cokelat polos tanpa hiasan, tapi potongannya berkelas. Dila memerhatikan tas dan sepatunya, dan dari merknya, Dila bisa menyimpulkan bahwa Lisna sudah mapan, meski usianya baru 23. Tentu saja, Dila beberapa kali menemukan nama Lisna di media daring yang meliput gadis itu sebagai seorang animator berbakat di studio film di ibukota. Saat membaca liputan itu, di hati Dila terbersit sedikit rasa malu. Darena dirinya masih berkutat pada profesi mentor kursus desain selama bertahun-tahun ini, dan karenanya ia merasa tidak berkembang.
“Baik,” jawab Lisna pendek, menelisik wajah Dila. “Emm… maaf banget, Mbak, saya punya ingatan payah soal wajah orang-orang nih…”
“Oh,” tanggap Dila, segera menyadari kesan asing dari diri Lisna, “Ya, aku juga suka gitu kok. Sama. Aku… Aku Dila.”
Dila menunggu sambutan riang dari Lisna. Alih-alih, Lisna malah tampak berpikir keras. “Dila…?”
“Uni Dila,” Dila memperjelas, tersenyum dan menunggu Lisna mengingat dirinya. Mana mungkin gadis itu lupa? Dila sendiri selalu mengingat Lisna, yang sedekade lalu ia kenal sebagai gadis penghuni rumah yatim yang ia ajari banyak hal, terutama menggambar. Dila selalu ingat bulan-bulan ketika ia masih mengajar di rumah yatim itu sebagai relawan, bagaimana ia selalu menikmati jam-jam belajar bersama Lisna dan anak-anak lainnya. Dan Dila ingat, hal yang paling sering ia ajarkan adalah menggambar dan mewarnai. Menggambar macam-macam, dan dimana-mana. Di kertas, di dinding, di kaos, bahkan di komputer. Dan Lisna, tentu saja, adalah anak yang paling antusias dalam menggambar. Anak yang paling sering bertanya macam-macam dan yang paling banyak menuntut Dila untuk lebih banyak menggambar dibanding belajar matematika. Lisna dan keriangannya menerakan kesan bahwa Dila, sebagai guru, berperan banyak pada dirinya, pada perkembangan kecerdasan spasialnya, waktu itu. Terlebih, kini Lisna adalah seorang animator. Meskipun tidak langsung, Dila beranggapan bahwa jam-jam menggambar itu merupakan inisiasi Lisna ke dunia kreatif, dunia animasi dan film, hingga kini dirinya populer dikenal sebagai animator. Dila sebelumnya selalu yakin bahwa Lisna ingat dirinya, terutama karena jam-jam menggambar itu, hingga ia kecewa melihat respon bingung Lisna beberapa detik lalu.
“Uni Dila…” gumam Lisna lirih, “Yang waktu itu pindah dari rumah sebelah, ya?”
“Bukan, ya Tuhan,” sanggah Dila, agak kesal karena Lisna tidak mengingat dirinya, padahal ia sudah yakin Lisna akan segera girang dengan sirobok ini, “Aku Dila yang waktu itu ngajar di Wisma Alia. Dulu sih. Waktu aku masih SMA. Dan kamu masih SD.”
Dila menunggu respon, tapi ia mendapat kesan bahwa Lisna masih bingung. Ia melanjutkan lagi untuk membantu, “Yang dulu sering gambar bareng dan main bola di lapangan depan. Ingat Hara? Yang paling dekat dengan kamu itu, dan yang paling jago gambar rumah.”
Lisna tampak berpikir. Lalu matanya cerah sesaat. “Oh, aku ingat! Ni Dila! Ya Tuhan!”
Dila tersenyum lega.
“Aku beberapa kali membaca tentangmu di internet. Dan juga menonton film karyamu,” Dila berusaha memberi kesan apresiasi pada orang yang dulu pernah ia ajari banyak. “Aku tidak menyangka kamu sekarang sudah jadi animator. Ternyata, kamu benar-benar suka gambar ya.”
Lisna tersenyum tanpa kesan berbangga. “Aku bukan apa-apa kecuali apa yang Tuhan beri, Ni. Dan ini juga berkat banyak orang.”
“Pasti perjalanannya panjang,” timpal Dila.
“Ya, begitulah. Lamaran Lisna ke banyak studio ditolak, padahal sebelumnya Lisna sudah kursus dimana-mana. Lalu ngerjain banyak proyek tanpa bayaran. Hingga akhirnya nyangkut di sini, belajar film, matengin teknik gambar, jadilah animator. Yah, kisah klise sih sebetulnya. Ni Dila sendiri, sekarang apa kabar?”