Berperan Layaknya Angin [Cerpen] [2/2]

Berperan Layaknya Angin [Cerpen] [2/2]

Gambar: AI-generated dengan Adobe Firefly

Sebelumnya: Berperan Layaknya Angin [Cerpen] [1/2]

“Ya, begitulah. Lamaran Lisna ke banyak studio ditolak, padahal sebelumnya Lisna sudah kursus dimana-mana. Lalu ngerjain banyak proyek tanpa bayaran. Hingga akhirnya nyangkut di sini, belajar film, matengin teknik gambar, jadilah animator. Yah, kisah klise sih sebetulnya. Ni Dila sendiri, sekarang apa kabar?”

“Baik, dan makin baik setelah bertemu kau, Lis,” jawab Dila, “Aku senang sekali kau sudah hebat begini. Aku, masih saja jadi mentor di sebuah kursus desain grafis, nggak berubah selama hampir sewindu. Kadang bosan, tapi menyenangkan melihat orang-orang yang aku mentori benar-benar berkarya di industri kreatif. Dan ya Tuhan, aku senang sekali melihatmu seperti ini, Lis. Coba ceritakan, seberapa besar kau mencintai pekerjaanmu dan gimana hingga bisa jadi animator begini. Aku ingin dengar.”

“Lisna nggak punya apa-apa, Ni. Nggak pernah sekolah atau kursus yang berhubungan dengan animasi, nggak pernah punya laptop pribadi, nggak pernah punya buku sketsa dan perangkat-perangkat gambar itu. Nggak nyangka juga bisa jadi gini, animator di satu film dan direktur kreatif di film lainnya. Pastinya, banyak orang-orang yang berperan,” cerita Lisna. “Ada banyak banget orang yang sangat membantu hingga Lisna sampai ke garis ini.”

Dila tersenyum, merasa bangga. Ia menahan cengiran yang disebabkan gejolak girang dari dirinya, yang muncul karena ia tau Lisna sebentar lagi akan menyebut namanya, Dila,  yang dulu adalah guru berusia SMA menginisiasinya ke dunia kreatif. Dila, relawan rumah yatim yang senang menggambar dan mengajari menggambar.

“Misalnya, bos studio. Sebelum Lisna kerja di sini, beliau mempersilakan Lisna masuk ke studio kapan pun Lisna mau untuk melihat-lihat, nanya-nanya juga, soal bagaimana studio berjalan. Dan ada juga sahabat Lisna di SMEA, dia sering ngajakin Lisna ke pameran-pameran kayak gini”–Lisna mengerling sekelilingnya–“dan menjelaskan banyak hal soal seni grafis. Dan Hara, Ni Dila pasti ingat, kini dia jadi desainer busana. Awalnya kami sering gambar bareng, terutama gambar karakter, hingga kemudian kita punya orientasi masing-masing: Lisna lebih suka menggambar ekspresi dan pose tubuh, sementara Hara suka menggambar baju dan pernak-pernik karakternya.”

“Aku sudah lama nggak dengar kabar Hara,” gumam Dila. Ia masih menunggu Lisna menyebut namanya.

“Dan ada juga komunitas,” Lisna melanjutkan ceritanya, “Lisna bergabung dengan remaja masjid dekat rumah yatim. Teman-teman di sana suka film, entah itu kartun, dokumenter, fantasi, atau apapun. Tidak cuma suka nonton, tapi juga suka mengkritisi. Lisna belajar banyak bersama mereka. Dan waktu Lisna kerja di administrasi, atasan Lisna juga nyambi jadi ilustrator buku dongeng. Lisna sering liatin beliau gambar dan mewarnai. Beberapa kali, Lisna dikasih buku yang memuat ilustrasinya. Ya Tuhan, Lisna bener-bener bersyukur. Atas orang-orang itu dan segalanya.”

Dila mengangkat alis. “Lalu?”

“Lisna mulanya nggak berpikir akan bekerja di bidang ini. Tapi kemudian Lisna sadar, kebiasaan Lisna menggambar tiap malam, bikin komik-komik iseng kalau lagi stres, atau semacam itu, adalah dorongan bawah sadar Lisna bahwa ini memang gairah Lisna. Menggambar adalah sesuatu yang nggak pernah membosankan, yang bahkan mendongkrak suasana hati. Jadi Lisna mulai ngisi komik-komik di media lokal, entah itu majalah atau koran. Terus, ketika punya laptop, mulai belajar desain grafis. Dan ternyata, seru banget menggambar di laptop. Lisna nerima beberapa pesanan teman, bikin banyak portofolio, lalu mulai ngelamar kerja. Berkali-kali ditolak, hingga akhirnya ya gini. Diterima bos, belajar banyak dan belajar keras.”

Lisna terdiam sesaat. “Kayaknya Lisna kebanyakan ngomong deh. Sekarang, gantian, Ni. Gimana kabar Ni Dila sekarang?”

Alih-alih bercerita tentang dirinya, Dila bertanya. Ada sesuatu yang mengganjal. “Kita udah nggak ketemu selama bertahun-tahun loh. Aku ingin tau, apa yang kamu masih ingat dariku?” ia berusaha mengutarakan pertanyaannya dengan ramah, menyamarkan kecewa bahwa dirinya luput disebut sebagai yang berperan dalam perjalanan karir Lisna. Ia merasa berperan cukup banyak untuk dikenang. Karena ia adalah orang yang memberikan pelajaran gambar berkali-kali di rumah yatim itu. Ia yang mengenalkan mereka dengan media gambar; kertas, karton, papan tulis, tas kanvas, bahkan tembok dan lantai. Ia juga yang mengenalkan mereka dengan pensil warna, spidol, cat air, bahkan pastel. Tidak cuma itu, ia juga pernah mendekorasi ruang tamu rumah yatim menjadi galeri bagi karya-karya mereka, mendaftarkan mereka–terutama Lisna–ke lomba menggambar dan memberi lusinan buku bergambar. Ia juga pernah memutar film-film kartun-kartun dan animasi. Atas semua yang sudah dilakukannya, tidakkah Lisna menyebutkan dirinya, perannya? Mungkin, karena ia ada di hidup Lisna yang lebih awal, Lisna tidak mengingatnya sebaik ia mengingat orang-orang lain.

Lisna tampak berpikir sebentar. “Jalan-jalan. Ni Dila sering ngajak kami jalan-jalan keliling komplek, dan bernyanyi. Dan… apalagi ya? Oya, ngerjain PR bareng.”

Tapi, gadis itu tidak ingat. Tampaknya, tidak tersisa di memorinya bagaimana peran Dila lebih banyak dibanding bos studio, sahabat SMEA, Hara, komunitas, atasan, atau siapapun.

“Lisna juga ingat…” gumamannya terhenti, menggantung.

Dila menunggu.

“Lisna ingat… hari terakhir Ni Dila mengajar,” gumamnya, pelan. “Kita semua sedang asyik main, hingga tiba-tiba Ni Dila bilang, di tengah permainan, kalau itu adalah kunjungan terakhir Ni Dila, karena Ni Dila dapat pekerjaan di luar kota, dan akan segera pindah.”

“Oh,” respon Dila lirih, bingung memberikan tanggapan apa.

“Padahal… padahal waktu itu Ni Dila masih punya banyak hal yang katanya mau dikerjakan bareng-bareng Lisna dan temen-temen. Soal kejutan ulang tahun Bu Via, mading rumah yatim, dekorasi kamar. Dan Ni Dila juga pernah bilang ingin ajak kita ke Kebun Raya…”

Mendengarnya, getaran pilu menyambar Dila, membuatnya merasa inferior. Jadi, ini, nila setitik yang merusak susu sebelanga. Dila sudah melakukan sangat banyak untuk rumah yatim dan mengorbankan banyak bagian dari dirinya, secara berkelanjutan, hingga datang satu titik, datang tawaran kerja yang begitu menggiurkan, dan itu membuatnya pindah kota dan meninggalkan banyak hal. Termasuk rumah yatim. Ia lupa akan janji-janjinya, tanggung jawabnya, dan simpul yang sudah ia bentuk bersama orang-orang di rumah yatim itu. Ia dulu menganggap dirinya guru bagi Lisna dan teman-temannya, dan mereka pun juga menganggapnya guru. Tapi sekarang, semua itu rasanya hanya cakap angin.

Kini Dila paham. Keinginan untuk terus diingat, dikenang, dan dimuliakan, adalah keinginan yang begitu naif. Menjadi guru bukanlah sesuatu yang bisa membuat gemilang eksistensi diri, meski hanya di mata murid. Tidak. Menjadi guru berarti tidak ada ocehan seperti, “Jabatanku membuatku mengepalai proyek ini,” atau “Aku biasa rapat di luar kota dengan perusahaan multinasional itu,” yang bisa membuat derajat keluarga dan kerabat terangkat.  Menjadi guru adalah untuk memintarkan dan mencerdaskan orang-orang lain, lebih dari diri mereka sendiri, lalu setelah itu pergi dan dilupakan. Menjadi guru berarti berperan layaknya angin, menyapu panas dengan kesejukan, terasa tapi tidak terlihat, dan sudah itu pergi, tidak kembali.

Dila menarik napas panjang. “Tahu, nggak Lis? Kau guruku. Sedekade lalu, hari ini, dan tahun-tahun ke depan.”

Kasih tanggapan dong!