Resensi The Art of Jumbo: Paparan Detail Penuh Kasih dari Ryan Adriandhy

Resensi The Art of Jumbo: Paparan Detail Penuh Kasih dari Ryan Adriandhy

“Diary” dari proses kreatif di balik film fenomenal Jumbo ini membuatku kembali menoleh ke cita-cita menjadi animator, yang sudah menguap sedekade lalu.

Buku Art of Jumbo dan bonus art print.
Buku Art of Jumbo dan bonus art print.

Beberapa bulan lalu, aku melakukan pre-order buku The Art of Jumbo di JICAF. Buku ini baru datang Desember lalu, dan baru selesai kubaca beberapa pekan lalu. Sebagai bonus pre-order dari JICAF, aku juga mendapat art print gratis.

Dan inilah sekilas ulasan (review) dariku!

Sekilas review buku Jumbo

The Art of Jumbo memaparkan detail seluruh proses kreatif di balik film animasi Jumbo, mulai dari konsep karakter, desain outfit, hingga set dan properti seperti buku dongeng yang muncul dalam film. Benar-benar membedah tiap detail penuh kasih yang disiapkan Ryan Adriandhy untuk filmnya ini.

Secara visual, buku Jumbo ini sangat memanjakan mata. Layout-nya rapi, tidak hanya berisi sketsa-sketsa dan dummy, tetapi juga ada beberapa halaman di akhir yang sepenuhnya berisi ilustrasi jadi. Kita jadi punya hasil cetakan berkualitas tinggi dari visual yang ada di film Jumbo.

Buku Art of Jumbo menceritakan fakta menarik dan inspirasi di balik setiap detail visual yang kita lihat di layar. Misalnya, bagaimana tim kreatif merancang Kampung Seruni, set cantik yang dipertimbangkan dengan matang dirancang khusus agar relevan tidak hanya untuk pasar Indonesia, tetapi juga seluruh Asia Tenggara bahkan Asia Timur. Referensinya diambil dari berbagai tempat, termasuk beberapa jalan di Hongkong, yang membuat Kampung Seruni punya nuansa ala Peranakan. Dan belakangan ini, Jumbo tayang di Amerika Latin, yang kurasa set ini juga relevan dengan area tersebut.

Itu hanya satu detail dari keseluruhan buku yang terdiri dari berbagai detail mengenai karakter, outfit, set, dan bahkan objek-objek kecil seperti buku dongeng Don.

Pendekatannya yang sangat detail dan matang dalam mengambil keputusan kreatif ini sangat mengesankan. Setiap pilihan referensi, setiap ide yang dieksekusi, semuanya dipikirkan dengan matang.

Character Development: Dibuat Familiar dan Tipikal

Referensi karakter-karakter di Jumbo diambil dari hal-hal yang kita semua familiar. Menurutku, character development-nya cukup tipikal, dan justru itu yang bagus. Karena itulah yang membuat karakter-karakter di Jumbo jadi dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Watak dan kebiasaan tiap tokoh bukan sesuatu yang terlalu kompleks atau absurd, melainkan karakter yang mudah dipahami dan membuat penonton merasa terhubung secara emosional.

Catatan pribadi

Di samping review buku Jumbo secara umum, aku punya beberapa catatan pribadi.

Ternyata, referensi yang kaya itu penting.

Membaca buku ini membuatku kembali ingat bahwa proses kreatif itu sangat personal dan menyenangkan sekaligus. Kita bisa mengambil inspirasi dari hal-hal yang kita sukai, dari referensi yang kita anggap relevan.

Para seniman yang terlibat membuat aset-aset kreatif ini dengan ragam pertimbangan yang menunjukkan betapa kayanya benak mereka. Tentu, untuk mendapatkan inspirasi yang tepat dan relevan untuk bisa memproduksi karya yang otentik, seseorang harus punya banyak referensi dan wawasan yang luas. Bukan sekadar soal bakat, tapi soal riset, dedikasi, dan pemahaman mendalam terhadap audiens; juga mengenai seberapa lengkap pustaka memori dan pengetahuan apa saja yang ada di kepala, seberapa luas database yang ada di sana.

Membalik halaman terakhir buku ini membuatku berpikir lagi: wow, betapa proses kreatif yang pernah kudambakan akan kurasakan jika aku memang benar jadi animatorcita-cita Prita remaja.

Menutup buku ini, aku mengunjungi kembali mimpi dan cita-cita menjadi animator. Hari ini aku punya karier yang aku senangi serta hobi-hobi yang juga berhasil kukomersilkan, jadi tidak ada penyesalan soal tidak menjadi animator. Cuma, membaca Jumbo, membaca bagaimana proses kreatif berlangsung dengan sebegitu seru, ya, mungkin suatu hari, kita benar-benar jadi animator ya Prita. Kalau hari-hari sudah tidak tergesa-gesa lagi, kita belajar animasi LAGI dan buat cerita-cerita yang seru untuk divisualkan.

Sementara ini, aku rutinkan dulu aja menulis resensi dari produk-produk kreasi orang-orang.

Kasih tanggapan dong!