
Ada dua jenis sulung di dunia ini.
Yang pertama, yang menjadi payung mahatangguh.
Naungannya berlaku dalam segala cuaca. Ia piawai menghalau terik tropis kota kita. Pada hari-hari terik, naungannya teduh dan sejuk. Jika hari hujan, cekungan naungannya melindungi tampias dan angin yang terlalu marah. Dan badai hanyalah gelitik remeh untuk gagang payung yang menancap kuat, di mana semua orang yakin bahwa payung itu tidak akan pergi kemana-mana.
Orang-orang bisa berpiknik di bawah teduhnya. Keluarga-keluarga berkumpul menggelar tikar dan makan bersama sembari sibuk membincangkan tentang percik-percik hari; anak-anak bermain dengan aman; binatang-binatang datang menghampiri dan duduk bersantai, mendapatkan rasa aman di bawah payung. Di bawah naungan payung, udara senantiasa sejuk. Orang-orang mudah tertawa dan suasana hati mustahil muram.
Tumbuhan—bebungaan, pepohonan buah, rumput liar yang sejuk berembun—tumbuh subur beratap payung, dengan sela-sela yang tepat untuk menikmati cahaya matahari dan air hujan.
Payung dengan kanopi paling melindungi dan gagang setara kokoh pilar. Itu adalah tipe sulung pertama.
Yang kedua, adalah yang menjadi senapan, merasa punya kuasa untuk menembak apa pun, kapan pun, ke arah siapa pun.
Aku adalah yang kedua, Tuan, tetapi tulisan ini membincangkan tentangmu.