Ini dia, si jobless boy kita. Kamu tuh nggak malu, jadi pengangguran terus?
Tante Yuli dalam Tunggu Aku Sukses Nanti, 2026

Film Tunggu Aku Sukses Nanti keluar dengan tagline “Film Lebaran yang paling Lebaran”, dan kurasa itu adalah hal yang tepat menggambarkan film ini: plot ditekankan pada adegan yang terjadi dari Lebaran ke Lebaran, pada Arga, pemuda yang pencapaiannya selalu kalah jauh dibanding sepupu-sepupunya.
Film dengan genre drama komedi ini sukses menyajikan drama yang lekat dalam kehidupan banyak orang, dan komedi dengan lelucon yang segar. Aku sendiri merasa komedinya oke banget: dialog-dialog kocak yang tersebar sepanjang durasi selalu berhasil bikin ketawa. Tetapi, untuk drama keluarganya, ada hal-hal yang mengganjal di penokohan dan alur cerita.
Plot: Dari Lebaran ke Lebaran
Mengangkat keluhan massal mengenai Lebaran: tante yang cerewet dan cenderung meremehkan pencapaian keponakannya yang dianggap payah.
Film dibuka dengan adegan dari satu Lebaran ke Lebaran berikutnya. Dari Arga–tokoh utama–kecil, hingga ia berusia akhir 20-an. Hubungan Arga dengan Tante Yuli tetap sama selama bertahun-tahun tersebut: Arga diremehkan dari pencapaian sekolahnya dulu, dan pencapaian karirnya kini.
Interaksi Tante Yuli terhadap Arga membuat Arga frustasi dan mengerahkan apa pun yang ia bisa untuk membuktikan dirinya layak di mata tantenya itu. Menjelang akhir film, Arga mendapat refleksi diri, apakah semua usaha yang ia lakukan hanya berdasarkan frustasi pembuktian, berdasarkan ambisi harus divalidasi, alih-alih untuk menghargai dirinya sendiri?
Antusiasme: Film Lebaran paling Lebaran
Sampai hari ini, Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film Lebaran 2026 yang terlaku setelah Danur: The Last Chapter. Lebaran kali ini kaya oleh banyak film lokal, beriringan juga dengan ketertarikan menonton bioskop. Wow, senang sekali melihat industri film lokal makin berapi-api!
Opini: Beberapa Detail yang Kurang Sreg
Film ini disajikan dengan kocak dan dekat, karena latar Lebaran yang tepat dengan waktu peluncurannya, dan konteks yang lekat dengan banyak orang serupa Arga. Aku sendiri sangat menikmati komedinya, dialog-dialognya jenaka dan lucu, beberapa adegan betulan kocak. Tetapi, menyoal tokoh dan alur cerita, aku punya komentar lain.
Untuk penokohan, karakter Tante Yuli tampak kurang matang. Ada konflik-konflik yang dipaksakan terhadap karakter ini. Lalu karakter seperti Fanny, teman Arga, di akhir cerita muncul dengan alur yang membingungkan. Mengenai Arga sendiri sebagai tokoh utamanya, aku sama sekali tidak simpatik karena dalam penggambarannya, aku melihat permasalahan Arga adalah punya skill issue, sekaligus kurang gigih dan kurang cerdas ketika berjuang.
Mengenai alur, sangat tipikal. Meski begitu, alur pasaran ini dapat dikemas rapi dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Arga. Sayangnya, meski topik drama yang diangkat adalah yang lekat dengan kehidupan banyak orang, plot di akhir banyak yang terkesan terpaksa dan tidak mengalir.
Ada satu review yang menurutku menarik dari Letterboxd dan Twitter:


Aku sudah menamatkan trilogi film perintis, drama-drama tipikal tentang perjuangan kelas menengah: Home Sweet Loan, 1 Kakak 7 Ponakan, dan Tunggu Aku Sukses Nanti. Jika ada film serupa setelah ini, kurasa aku tidak perlu masukkan ke daftar tonton.