Na Willa: Film yang Cantik di Segala Aspek

Na Willa: Film yang Cantik di Segala Aspek

“Mak bohong! Sepatu Mak ada kerikilnya!”

Na Willa, 2026

Film ini sangat cantik.

Cantik adalah kata yang menurutku paling tepat menggambarkan Na Willa, film garapan Ryan Adriandhy dari buku Reda Gaudiamo dengan judul yang sama. Semua aspek di film ini cantik: nada warnanya, kostum para pemainnya, desain set, narasi, dan cerita. Khusus cerita, cerita ini juga hangat, sebagaimana yang kurasakan ketika membaca buku Na Willa di 2024 lalu.

Aku menikmati buku ini karena ringan dan hangat, tetapi tidak benar-benar terkesan. Sebuah buku yang ditulis seolah dari sudut pandang anak kecil, yang menceritakan tentang kesehariannya sebagaimana anak-anak lain. Sementara, film garapan Ryan ini  menambah banyak hal cantik selain ringan dan hangat. Film ini sarat warna, banyak sekali warna, dan dengan ajaib, warna-warni ini bisa tersaji dengan lembut dan tidak teriak. Tiap detail visualnya. Belakangan, aku tahu kalau Ryan sangat memperhatikan value, memastikan secara visual film ini juga tetap ciamik dalam warna hitam-putih. 

Dari sekian aspek yang kuanggap cantik, favoritku adalah semua busana yang dikenakan Mak. Seingatku, semuanya gaun midi, atau setelan kemeja dan rok midi, yang semuanya cantik, elegan, dan manis. Tepat menggambarkan latar 1980-an, sekaligus juga memamerkan kecantikannya.

Plot: Jalan Cerita yang Ringan 

Jalan cerita ringan dan menjejerkan konflik satu-satu dengan rapi dan sederhana. Karena ditulis dari sudut pandang Na Willa, film hangat ini bisa dinikmati oleh anak-anak–karena bicara dengan “bahasa” yang sama dengan mereka–dan orang dewasa sekaligus–karena memanggil masa kecil mereka.

Buatku secara pribadi, banyak adegan dan detail terselip yang memberi kesan nostalgia. Yang paling berkesan adalah bagaimana Na Willa (dan teman-temannya di scene terakhir), menenggelamkan tangan mereka di karung biji-bijian–beras, kacang hijau, dan lainnya–di kios Cik Mien di pasar. Wow! Ini adalah kegiatan favoritku tiap kali melihat karung bijidi warung. Kegiatan yang kulakukan sembunyi-sembunyi dan takut-takut karena aku takut kalau aku mengotori atau menumpahkan isi karung. Ternyata menenggelamkan jari ke biji-bijian ini adalah hasrat anak-anak yang universal. Selain adegan itu, ada pula adegan main boneka, membariskan mainan, dan memaksakan kehendak ke teman–yang masing-masing memanggil memoriku dari dua dekade lalu. Di kepalaku, jadi berputar plot dan konsep yang sama, hanya tokoh dan latar yang berbeda.

Film ini menyajikan konflik satu per satu, bergantian. Konflik-konflik yang sederhana dan khas anak-anak, bergantian tampil satu-satu. Konflik yang akrab dengan memoriku juga, tipikal konflik keseharian anak-anak. 

Dan di samping konflik yang terjadi bergantian, suka sekali dengan keragaman tokoh-tokoh. Tokoh yang ada tidak cuma Na Willa dan geng kecilnya yang sama-sama “berbahasa” dan berpola pikir yang sama, tapi juga variasi dari kehidupan anak kecil: sepasang orang tua, pengasuh, tetangga-tetangga, orang-orang di pasar, dan guru-guru. Keragaman ini menambah warna pada film. 

Opini: Kaya Detail yang Sarat Nostalgia

Detail-detail yang tampak dipikirkan matang-matang ini tersebar di seluruh durasi film. Sebagaimana kubilang di awal tulisan–cantik di segala aspek–semua adegan dan set dipikirkan dengan baik, menyajikan dengan tepat bagaimana suara benak kita ketika kecil, bagaimana konflik-konflik muncul dan cara kita menghadapinya, dan bagaimana segala sesuatu terlihat (tinggi dan besar, dan banyak hal-hal “orang dewasa” yang sulit kita cerna).

Meski latar film ini adalah Surabaya 1980-an, kurasa banyak memori universal–terlepas dari kota dan masa–mengenai masa kecil yang tersaji rapi dan cantik di film ini.

Film ini lebih matang dari Jumbo yang kurasa terlalu cepat dan ada beberapa plot yang melompat-lompat (dikatakan bahwa ini adalah bagaimana Ryan membuat karya yang menyuarakan ADHD). Sama seperti film sebelumnya, Jumbo, aku senang mengikuti update proses Ryan Adriandy dalam mengerjakan produksi, pasca produksi, maupun fakta-fakta unik yang ia ungkap satu-satu selama masa promosi film. 

Beberapa detail yang aku merasa kurang sreg adalah penggambaran tokoh Mrs. Chang yang rasanya kurang “bule” baik dari logat maupun penampilan, sehingga terkesan terlalu memaksa. Lalu plot di mana Dul kecelakaan juga bikin syok: film berjalan dengan ringan, hangat, dan manis, tiba-tiba ada kejadian begitu mengejutkan berupa kecelakaan fatal. Adegan orang-orang berlarian dan tubuh Dul yang digendong itu sangat mengejutkan buatku. 

Antusiasme (Mungkin) Melampaui Jumbo

Aku menonton ini di hari pertama film masuk bioskop, 18 Maret, di bioskop (yang biasanya tidak ramai) di daerah Jakarta Timur, dan terkejut karena kursinya cukup penuh di hari pertama ini, show time kedua. Ini adalah bangku bioskop sekitar 15-20 menit sebelum film dimulai:

Membandingkan dengan tahun sebelumnya, di mana aku menonton Jumbo di hari kedua Lebaran, di mana okupansi studio bahkan tidak sampai seperempatnya. Ini di bioskop daerah Blok M, di mana daerah tersebut sudah ramai oleh keluarga-keluarga yang jalan-jalan dalam suasana Lebaran.

Membandingkan animo pekan pertama itu, jika Jumbo yang sepi di pekan pertama tetap bisa tembus 10 juta penonton berbulan-bulan setelahnya, apakah Na Willa juga bisa?


Setelah ini, akan menunggu film-film Ryan berikutnya, sembari membaca ulang Na Willa dan buku Reda Gaudiamo yang lain!

Resensi lainnya.

Kasih tanggapan dong!