Semakin Tidak Prita

Semakin Tidak Prita

Gambar Generative AI Photoshop

Beberapa waktu belakangan, aku mulai membeli makanan yang tidak kuhabiskan; barang yang tidak benar-benar kupakai; dan buku-buku yang tidak aku baca.

Aku mulai merasa tidak masalah dengan hal itu. Belakangan apa yang kuinginkan, seta merta kuturuti. Padahal, biasanya kalau ingin mengonsumsi sesuatu, aku akan melakukan pertimbangan panjang: apakah keinginan-keinginanku adalah hal yang baik, dan apakah kalau dipenuhi akan jadi sesuatu yang bisa aku manfaatkan dalam jangka panjang, dan apakah akan berdampak atau hanya akan teronggok sia-sia. Pun kalau aku punya sumber daya yang cukup untuk memenuhi keinginan-keinginan itu, bukan berarti aku harus memenuhinya. Segala keinginan harus melewati pertimbangan-pertimbangan itu, dipikirkan matang-matang dan saksama, sebelum aku mengabulkannya. 

Tetapi belakangan ini, pertimbangan-pertimbangan itu menipis. Aku melonggar terhadap diriku sendiri, menjadi sangat permisif pada keinginan-keinginan yang makin eksponensial alih-alih makin tipis. Membuatku merasa bahwa aku mengingkari nilai yang aku upayakan: merasa cukup dan merasa penuh dengan keinginan materialis yang minim. Aku makin bergantung pada keinginan-keinginanku, yang terus membesar tapi tidak berdampak banyak, dan ini membuat aku merasa semakin tidak Prita.

Kasih tanggapan dong!