| Kau berprasangka buruk terhadapnya, ya kan? | Feb 12, ’11 6:11 PM untuk semuanya |
“Yah, tapi pengakuannya cukup meyakinkan–menurutku,” mahasiswi blus putih itu buru-buru menambahkan.
“Dia pernah masuk penjara sebelumnya, kan? Itu berarti dia punya sejarah tindakan kriminal,” mahasiswi berjaket masih tetap pada pendiriannya.
“Tapi aku yakin kalau dia sudah bertobat, bulan terakhir ini dia tak pernah alfa sholat berjamaah, aku memperhatikannya,” mahasiswi blus putih itu ikut bersikeras, “Bisa jadi wanita itu.”
Mahasiswi blus putih menunjuk seorang wanita berkaos panjang yang sedang mengomando belasan anak balita berseragam olahraga untuk bergerak mengikuti musik senam. Mereka berdua kenal wanita berkaos panjang itu, seorang mahasiswi kelas tinggi yang baik hati, jenis orang yang tidak mengambil uang kembalian, hobi menolong, rela berkorban, pekerja keras, murah senyum, berbibir suci dari kata-kata kasar.
“Dia seperti malaikat, bagaimana mungkin kamu menuduhnya?” elak mahasiswi berjaket.
“Dia juga terlibat dalam masalah yang sama, kan? Status wanita itu sama saja dengan mantan napi itu dalam masalah ini; tersangka.”
“Hei, mantan napi itu pernah melakukan kejahatan. Tidak mustahil kalau dia melakukannya lagi, kan?”
“Kalau mantan napi yang sudah tobat itu bisa bertindak jahat lagi, kenapa wanita baik itu tidak bisa mulai bertindak jahat?” analisis mahasiswi blus putih itu.
“Kau berprasangka buruk terhadapnya, ya kan?”
“Setidaknya kau juga berprasangka buruk pada mantan napi itu.”
Dilihat 3 kali oleh 3 orang, terkini on Jun 4, ’11