Kenang yang Tidak Lekang

Kenang yang Tidak Lekang

sosok yang tidak punya cela
Kau mendefinisikannya sebagai sosok yang padanya tidak pernah kautemuka cela; yang tidak pernah menolak pinta sekalipun (termasuk pinta terakhirmu yang tidak tau diri); yang namanya tidak selesai dihela oleh doa-doa pagimu yang kaulagukan pada telinga Tuhan yang mustahil kelelahan.
Lalu kau menegaskan diri, bahwa kau tidak boleh lupa bahwa ada hari-hari yang panjang di depan, yang entah berujung di mana, entah seberapa kasar permukaannya, entah bagaimana membingungkan persimpangan-persimpangan yang akan kautemui. Tapi kau sudah menentukan jalanmu di awal, sehingga tahu mana kelok yang harus dihindari, dan mana yang harus ditapaki. Dan ini, tentu saja kelok yang harus kauhindari, jalan yang pantang kautapaki. Jadi, kau berputar balik.
Dilematis, bahwa kau membiarkannya bisu hingga tanpa sadar mengikis sakral yang kaupuja, sakral yang pelan-pelan jadi sesuatu yang profan. Padahal baginya, kau fana seperti satu gurat di pasir yang lekas lenyap oleh satu sapuan ombak. Begitu pula sebaliknya.
Kemudian kau dengan naif mencoba menghitung terima kasih, yang ternyata tidak selesai meski malam sudah lewat berkali-kali. Tapi betapapun tidak ada yang bisa kaukeluhkan dari dirinya, kau tidak bisa tahu apakah kemudian ia akan jadi sesuatu yang lekas usang atau kenang yang tidak kenal lekang.
Di atas segalanya, kau mematri syukur kuat-kuat. Kau dikuatkan semesta, Prit, dan terutama, Matahari.

***

Hei, lagi-lagi, terima kasih ya. Sungguh-sungguh terima kasih. Dan maaf, sangat amat. Memang ada banyak cerita yang luput diungkap dan tanya-tanya yang tidak sempat dilontar, tapi bagaimana kalau kita sepakat membiarkan waktu menguapkannya saja?
 
 

Kasih tanggapan dong!

Satu pemikiran pada “Kenang yang Tidak Lekang”