Intensi cerita

Intensi cerita

Aku mau cerita, boleh ya?

Tidak akan merepotkan.

Kau boleh sambil menyeruput kopi atau mendengarkan lagu. Atau, kalau kau mau sambil main gitar atau sambil memberi makan kucing, aku tidak berkeberatan. Tidak apa juga kalua kau mau sambil baca buku atau bahkan main ponsel, silakan saja, aku tidak bakal tersinggung.

Aku tidak mau merepotkanmu. Aku sudah sering sebelumnya, sebaiknya aku tidak menambah-nambah lagi.

Kau tidak perlu menyiapkan topik-topik turunan agar kita mengarah ke diskusi mendalam, tidak perlu pula memikirkan aneka saran atau komentar rumit untuk membuatku merasa dipahami (tanpa saran dan komentar itu, kita juga sudah yakin kalau kau paham, melebihi siapapun), tidak perlu pula ancang-ancang mengangguk-angguk merespon ceritaku.

Aku mau cerita, dan kau tidak harus menanggapi, tidak harus pula menyimak.

Aku mau cerita, hanya karena menyampaikannya di hadapanmu, terlepas dari apapun reaksimu, akan membuatku lega.

3 pemikiran pada “Intensi cerita”

  1. Manusia emang terkadang cuma butuh tahu kalau dia didengarkan, daripada memaksa diendapkan tapi perlahan terhancurkan 🙂
    \\Semangattt//
    Salam kangen buat kak Prita, dulu kita pernah saling sapa (di dunia maya juga) 😀

    • Waaah Yasmin, apa kabaaar? Makasih banyak loh udah mampir dan komen! Senangnyaaaaa. Kok blognya belum ada konten? Aku mau liaaatt. Atau boleh bagi akun sosmed? Hehe

    • Aku kehilangan banyak teman blog yang dulu sempat ramai di 2010an, tapi sejak ada Instagram dan sosmed lain, orang-orang (termasuk aku) jadi beralih aktif di sosmed, dan ga kontakan lagi huhu

Kasih tanggapan dong!

%d blogger menyukai ini: