![]() |
Putaran Kenangan (1) | May 9, ’11 2:47 PM untuk semuanya |
Kelas itu tak berbeda jauh. Karena tak ada guru, masing-masing anak mengerjakan apa yang mereka mau, meskipun sang guru sudah memberikan tugas selama ia meninggalkan kelas. Hanya beberapa gelintir yang mengerjakan, termasuk tiga bocah yang berkumpul di salah satu meja. Satunya laki-laki, satunya lagi berjilbab, satunya lagi bocah berambut kusut.
Salah satu dari mereka menjelaskan sesuatu sambil menunjuk-nunjuk buku di mejanya. Satunya lagi mendengarkan, mengangguk, dan mengiyakan. Satunya lagi membantah dan mengatakan bahwa penjelasannya salah, seharusnya begini, begitu.

Lagi, sebuah kelas reguler di sekolah negri di tepi Jakarta, sekitar sepuluh anak berusia 7 tahun mengelilingi meja guru, menatap kagum seorang guru berwajah awal 30 meskipun usia sebenarnya pertengahan 40 yang mengeluarkan dompet berisi mata uang luar negri.
“Ini waktu Ibu naik haji,” logat Bataknya terdengar kental, bocah berambut kusut itu ada di antara sepuluhan anak itu, memperhatikan wajah beliau yang berminyak.
“Nama mata uangnya riyal,” begitu kata-kata yang diingat bocah berambut kusut itu, kurang lebih.
“Nah, ini Ibu dapat dari teman Ibu,” wanita Batak bertubuh tinggi besar itu mengeluarkan lembaran lain dari dompetnya, anak-anak berdesak ingin melihatnya.
“Namanya apa, Bu?”
“Itu dari negara mana, Bu?”
“Bu, yang itu mata uang apa?”
Guru perempuan asal Sumatra Utara itu, dengan wajah berminyaknya, menatap penuh kasih bocah-bocah yang dibanjiri rasa penasaran itu.
“Ini namanya dollar, dari Amerika,” guru itu sabar menjelaskan.
Bocah berambut kusut itu mencatat baik-baik dalam ingatannya. Bukan, ia tidak mencatat darimana riyal dan dollar berasal. Dia mencatat tatapan guru itu, suara logat Bataknya, dan betapa bocah itu bisa merasakan, perempuan itu memangĀ mencintai anak-anak, menikmati perannya sebagai guru dan pemandu.
speedstars menulis on May 9, ’11
kenanganmu kah?
|
|
Dilihat 10 kali oleh 8 orang, terkini on Aug 6, ’11