| Surat buat Izrail | May 5, ’11 10:48 AM untuk semuanya |
Izrail,
Salam. Aku Prita, muslimah sederhana dari Indonesia. Ingin mengenalmu, mengetahui keseharianmu dan mengetahui kapan–ya, kapan–kau akan datang padaku.
Izrail,
aku mengenalmu sedikit dari pelajaran agama yang kuterima di sekolah formal. Bahwa kau adalah satu dari belasan subbab buku pelajaranku; bahwa kau adalah satu dari sepuluh malaikat yang wajib kuhapalkan dengan suara keras di depan guruku sewaktu aku 11 tahun; bahwa kau adalah tema yang terkadang diangkat dalam ceramah imam-imam di masjid; bahwa kau satu dari banyak hal yang akan kutemui; dan bahwa kau akan mengambil sesuatu dari diriku tanpa seizinku. Memang yang kau ambil bukan milikku, tapi milik Tuhanmu, tapi tetap saja, memikirkannya membuatku tidak bisa tenang.
Izrail,
aku tak tau sekarang kau berada dimana. Apakah di koridor rumah sakit, menjemput seorang penderita kanker? Atau di ramai lalu lintas, bersiap menjemput pengendara motor yang ceroboh dan ugal-ugalan? Atau di sebuah rumah sunyi, akan menjemput seorang lansia sekarat di kasurnya? Atau bahkan, yang amat kutakuti, kau sedang berada di–di rumah ini, bersiap mengambil–ah–salah satu dari kami; Nenek, Ayah, Ibu, kedua adikku, atau.. aku sendiri?
Izrail,
Aku benar-benar berharap agar kau tidak mendatangiku sekarang, tolong, aku masih berenang di lautan dosa. Dimanapun kau berada, aku ingin kau beri aku kesempatan; aku belum sempurnakan Rukun Islam–syahadatku terkadang tak dibarengi hati, sholatku seringkatli tak khusyuk, puasaku hanya sekedar tahan lapar-haus, zakatku masih dibayarkan orangtua, dan aku bahkan belum menabung sepeserpun untuk haji. Tolong datangi aku saat imanku sudah sempurna, ya Izrail, saat aku sudah pahami makna kehidupan, saat namaku sudah tercatat sebagai calon penghuni surga, saat aku sedang berbuat baik, dan terlebih, yang paling kuharapkan, saat aku sedang bersujud, pada Tuhanmu, pada Tuhan kita.
Izrail,
aku tak tau lagi apa yang ingin aku tulis. Aku ingin sekali mengintip nama-nama dalam daftarmu dan lihat siapa berikutnya dan lihat di urutan keberapakah namaku tertera dan lihat catatan tanggal dan jam penjemputanmu.
Izrail,
kuharap kau sempat membaca surat ini. Aku tak tau dimana aku harus mengirimkannya, tak satupun kurir atau Pak Pos yang tau dimana kau berada, jadi kutulis saja di jaringan terbesar di dunia–bagi dunia manusia–sebab aku tak terpikirkan media mana lagi.
Salinan dari catatan sederhanaku,
Kumpulan Janji untuk Dunia,
yang ditulis pertengahan Rabi’ul Awwal 1432,
malam di akhir minggu.
|
henidebudi menulis on May 5, ’11
Suka bacanya, prita, thx for share
|
|
henidebudi} berkata
Makasih Mbak Heni 🙂 , sama sama
|
|
iwananashaya menulis on May 5, ’11
Mmm.. tapi.. bukankah Malaikat Izrail ‘bekerja’ atas perintah ALLOH? Kenapa tdk ‘menulis surat’ langsung kpd ALLOH saja? >_<.
|
|
iwananashaya} berkata
Hm.. Kalo yang itu sih udah dalam do’a saya, terlalu pribadi, hehe. Jadi yang di share yang buat Izrail doang, sekalian nanya tempat dan isi catatannya~
|
|
kakcipa31} berkata
Hehe makasih Syifa 🙂
|
|
dindaomega menulis on May 6, ’11
Tersentuh aku ngebacanya……. :’)
|
|
|
Dilihat 22 kali oleh 10 orang, terkini on Jun 7, ’11
Suka bacanya, prita, thx for share 