| Serial: JURNAL UMUM KELAS 6A (3) | Apr 23, ’11 5:16 PM untuk semuanya |

Sabtu 17 Juli 2010 – ASTY
Ya ampun. Aku suka menulis. Jauh lebih baik daripada menghitung atau menggambar. Aku senang dengan adanya jam Merangkum Hari. Dan adanya JUK-VIA, tentu.
Sekarang, aku akan bercerita tentang kelas. Kemarin, Kepala Sekolah masuk ke kelas kami dan berceramah tentang UASBN. “Ada tiga poin penting,” beliau berkata, “Semester depan kalian akan mendapatkan pelajaran tambahan tiap sore, dan sudah tidak boleh ikut ekskul dan pertandingan apapun, dan harus lulus dengan NEM minimal 22,00.”
Maulana menjerit berlebihan seperti anak perempuan.
“Ya ampun, 22,00?” dia mengatakannya pada teman-teman di sekitarnya, bermaksud berbisik, tapi aku yakin bahkan adik-adik kelas yang ada di koridor kelas kami juga mendengar. “Aku harus makan buku!”
“Makanlah, kalau begitu,” sahutku sinis, “Tapi kau kan nggak pernah punya buku?”
Aku mengatakan itu karena dia benar-benar anti-buku. Wajar kalau dia menduduki peringkat terakhir di kelas. Dia bahkan belum mendapatkan poin sama sekali. Semua anak sudah mendapatkan poin minimal 20 poin. Raffi bahkan sudah mengumpulkan hampir 100 poin.
Maulana benar-benar mengesalkan.
Lepas jam ini ada jam pramuka, dan dia satu-satunya anak yang tidak membawa bendera semaphore. Ini perintah Kak Nanda. Dia bilang setelah dia menulis jurnal ia akan bersembunyi di lemari kelas, badannya cukup kecil, dia terlalu takut dengan teguran Kak Nanda. Aku tak heran. Ia anak tunggal dan orangtuanya memanjakannya.
Juga tadi pagi. Dia membuat Dina menangis, hanya karena dia terlalu bangga menemukan seekor kecoak dan dengan jahat mendekati Dina dan tersenyum, tapi tiba-tiba dia menjatuhkan kecoak itu di kepala Dina. Kadang aku memang sebal dengan Dina karena dia terlalu jijik pada reptil dan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya, tapi kali ini Maulana memang keterlaluan–seharusnya dia punya rambut panjang sebagus dan sehitam Dina.
Semua anak mengharamkan Maulana lima belas menit lalu. Bayangkan, dia tadi pagi datang dengan tas kosong, dan meminjam semua. Mulai dari Matematika Alfa, pulpen Shara, penggaris Rani, dan penghapus Laras, dan tak satupun yang kembali dengan utuh. Lima lembar pertama buku Alfa terlepas, pulpen Shara bocor, penggaris Rani hlang ,dan penghapus Laras terbelah dua. Aku tidak menyesal sudah menolak ketika ia meminjam pianikaku, karena bisa jadi nanti selangnya penuh berisi liur dan stiker keterangan not yang kutempel di tiap tuts hilang.
Dia benar-benar harus disingkirkan.
Tidak semua anak mengharamkan Maulana. Lihat Alfa, meskipun bukunya sudah sobek ia masih mau berteman dengan Maulana; perhatikan jam istirahat mereka. Disamping itu, Maulana juga memiliki sedikit masalah. Pahami itu.

Dilihat 3 kali oleh 3 orang, terkini on Jun 4, ’11