Pulang

Pulang

asphalt-dark-dawn-531321.jpg
Suatu hari, kau berangkat, pergi dari rumah, untuk melakukan perjalanan yang bahkan kau sendiri tidak tahu seberapa jauh. Di langkah pertama, kau berpikir, adakah satu yang akan kautemui, yang kelak akan kausebut rumah dan jadi tempat pulang?
Kemudian, kau menyusuri jalan, yang menjauh dari asalmu. Kau larut di berbagai peristiwa; menangis, tertawa, dan terharu. Kau mempuisikan beragam hal; tempat, teman, kejadian, rasa. Kau menghabiskan jam-jam panjang sarat kisah dengan sahabat-sahabat baru. Kau melihat warna-warna baru. Kau mengeja bahasa yang belum pernah kau kenal sebelumnya.
Perjalanan membuatmu bertemu banyak orang sekaligus singgah di banyak tempat. Kemudian kau ingat tanya yang kaulontar di langkah pertama; adakah satu yang akan kautemui, yang kelak akan kausebut rumah dan jadi tempat pulang?
Tidak, tidak, sama sekali tidak. Betapapun banyak orang, banyak tempat, dan banyak kejadian, semua itu tidak layak jadi tujuan pulang. Semua itu tidak memberikan apapun kecuali memperkuat keyakinan: bahwa tujuan pulang masih yang lama, tidak berubah.
Perjalanan ini sudah jauh dan mengikis ragu akan rumah. Jadi, pulang, Prit.
Pulang, pada rekah senyum yang menyambutmu dengan ledekan, rekah senyum milik sosok yang tidak pernah berhenti kaupuja sedekade terakhir, rekah senyum yang dengan ajaib membuatmu membeku dan meleleh sekaligus.
Rencanakan pulangmu, Prita. Tidak perlu tergesa, tetapi harus matang.

Kasih tanggapan dong!