Belum bosan

Belum bosan

Aku sepenuhnya rela jika saja perempuan itu lebih cantik, lebih manis, lebih menggairahkan, lebih lembut, lebih terampil, bahkan lebih kaya. Tapi aku sepenuhnya tidak rela jika ia lebih pintar dan berani. Siapapun ia.

Namun ternyata, perempuan ini cerdas bukan buatan. Dan tidak punya ketakutan.

Aku merasa diriku makin kerontang.

Pertemuan kami, entah keberapa kalinya. Mungkin ketiga, atau keempat. Itu petang yang campuraduk. Setelah setahun lebih. Kesal sekaligus bersyukur akan keberadan perempuan ini. Aku menyebut namanya pada angkasa, memohon supaya Semesta senantiasa mendekapnya dalam bahagia.

Benakku dipenuhi tanya: bagaimana bisa seorang manusia bisa punya daya magis sedahsyat ini?

Sampai hari ini, aku belum bosan bercakap tentang ia.

Kasih tanggapan dong!