Permisi, Tuan

Permisi, Tuan

Ada orang yang datang, bilang kalau hidup kami tawar dan tidak punya apa-apa. Ia menyarankan agar kami mewarnai sedikit hari-hari kami, mungkin dengan merancang kenduri dan memastikan seluruh kenalan menghadirinya, atau setidaknya, mereka tahu penyelenggaraannya, sehingga mereka menyadari eksistensi kami—dan bisa terkesan.

Lalu kami tertawa.

“Maaf, Tuan,

tapi kami tidak perlu pesta atau seremoni macam itu.

Tuan boleh menganggap kami tawar dan tidak punya apa-apa. Mungkin benar, tapi itu jika dan hanya jika Tuan melihat apa yang tersaji di depan mata. Mungkin karena kami lebih memilih untuk meramu rasa dan warna tanpa perlu dipertontonkan.

Kami merayakan banyak hal, besar dan kecil. Terutama, kami merayakan hari-hari yang padanya kami masih diberi napas; merayakan pagi yang menyeka lelap dan malam yang merangkak di antara lelah; merayakan pertemuan dengan siapapun baik sekadar sirobok tak sengaja atau anjangsana yang sudah direncanakan dari jauh hari; merayakan pencapaian baik itu mengantongi gemintang atau sekadar satu pijak maju; kami merayakan banyak hal.

Perayaan kami bukan pesta atau seremoni, melainkan memastikan bahagia kami tidak putus. Memastikan bahwa esok kami masih bisa lebih bahagia lagi dan memastikan bahwa kami dapat memercik bahagia ini ke orang-orang lain, sehingga jadi berkat yang tidak putus-putus.

Kami juga tidak bakal punya waktu untuk merancang pesta atau seremoni; kami sudah sibuk (dan akan selalu sibuk) menyampaikan terima kasih dengan personal, menyiapkan kado-kado kecil yang dibuat sendiri, dan meneruskan berkat yang kami dapat, ke siapapun. Kami menghabiskan energi dan waktu untuk membangun nilai di relasi kami dengan kawan dan kerabat. Memastikan mereka tahu bahwa kami bersyukur dipertemukan dengan mereka. Kami khawatir, kalau cuma pesta atau seremoni, mereka hanya ikut merayakan bahagia kami. Tidak, kami ingin menekankan bahwa mereka adalah sebab kami bahagia.

Maka, pesta atau seremoni itu omong kosong bagi kami, hanya selebrasi kasatmata, tapi kosong substansi.

Permisi, Tuan,

sekarang, kami hendak berdoa agar Tuan dapat memaknai hidup lebih dari apa yang tersaji di depan mata.”


Sir, I rather to impress people with my works than looks. Frankly speaking, I pity you, wholeheartedly.

2 pemikiran pada “Permisi, Tuan”

Kasih tanggapan dong!

%d blogger menyukai ini: